Mencari Bekal untuk Kehidupan Abadi
- 23 Agt 2026 19:25 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Dari berbagai urusan dan persoalan yang menyibukkan manusia dalam kehidupan sehari-hari, ada satu hal yang hendaknya benar-benar diperhitungkan, yakni nasib manusia setelah kematian. Apakah kelak akan memperoleh keselamatan dengan masuk surga beserta berbagai kenikmatan di dalamnya, atau justru mengalami kecelakaan dengan menerima siksa neraka.
Persoalan tentang kehidupan akhirat tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia pada hakikatnya hanyalah sementara. Karena itu, manusia perlu mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menghadapi perjalanan menuju kehidupan yang kekal.
Hal tersebut disampaikan Ustadz Drs. H. Slamet Riyadi saat menjadi narasumber dalam acara Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Madiun, Sabtu (22/8/2026). Ustadz Slamet mengibaratkan perjalanan menuju suatu tempat di dunia dengan perjalanan menuju akhirat.
Ketika seseorang hendak bepergian dari Caruban ke Madiun, misalnya, ia harus menyiapkan berbagai kebutuhan perjalanan, seperti bahan bakar kendaraan, SIM dan STNK. Bekal yang disiapkan pun harus disesuaikan dengan jarak perjalanan.
“Kalau kita mau ke suatu tempat, contohnya dari Caruban ke Madiun, saya harus menyiapkan bekal. Bekalnya apa? Kalau naik sepeda motor ya bensinnya, kemudian SIM-nya, STNK-nya, harus siap. Bekalnya juga harus sesuai dengan perjalanan kita. Ke Madiun bekal Rp50 ribu anggaplah cukup, berbeda ketika mau ke Surabaya tentu bekalnya akan lebih banyak. Ini perjalanan di dunia,” tuturnya.
Menurutnya, jika perjalanan dunia saja membutuhkan persiapan, maka perjalanan menuju kehidupan yang kekal tentu membutuhkan bekal yang jauh lebih penting. Bekal tersebut adalah ketakwaan kepada Allah SWT.
“Sementara untuk kehidupan yang langgeng, maka bekalnya jauh lebih banyak. Bekal itu adalah bekal takwa. Nah, bekal itu harus kita siapkan dari sekarang. Jangan sampai kita mencari bekal hidup di dunia sampai susah payah, tetapi untuk akhirat tidak pernah kita usahakan,” jelasnya.
Perjalanan menuju akhirat bukanlah perjalanan sehari atau dua hari, bukan pula sebulan atau dua bulan. Perjalanan tersebut merupakan perjalanan untuk selamanya dan manusia tidak akan kembali lagi menjalani kehidupan dunia.
Oleh karena itu, dunia sejatinya menjadi tempat bagi manusia untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi. Di antara bekal terbaik tersebut adalah takwa. Lantas, seperti apa sebenarnya indikator ketakwaan yang harus dimiliki seorang muslim?
Ustadz Slamet menjelaskan, menurut Sayyidina Ali, terdapat empat indikator takwa yang dapat menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
“Menurut Sayyidina Ali, takwa memiliki empat indikator. Pertama, takut kepada Allah SWT. Jadi di dunia ini hendaknya kita hanya takut kepada Allah SWT. Kemudian yang kedua, mengamalkan segala perintah Allah. Ketiga, ridha atau merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepada kita. Dan keempat, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya terhadap kematian atau perpindahan kita ke alam berikutnya,” jelas Ustadz Slamet.
Keempat indikator tersebut menjadi pengingat bahwa takwa tidak hanya berkaitan dengan ucapan, tetapi harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Takut kepada Allah mendorong manusia untuk menjauhi larangan-Nya, sedangkan menjalankan perintah-Nya menjadi wujud nyata penghambaan kepada Allah SWT.
Sementara itu, sikap ridha terhadap ketentuan Allah mengajarkan manusia untuk menerima dan mensyukuri apa yang telah diberikan. Adapun mempersiapkan kematian menjadi bagian penting agar manusia tidak terlena dengan kehidupan dunia yang sifatnya sementara.
Dengan demikian, kesibukan mencari bekal untuk kehidupan dunia hendaknya berjalan seimbang dengan upaya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Sebab, harta, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.
Sementara amal dan ketakwaan menjadi bekal yang menyertai manusia dalam perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Mempersiapkan bekal akhirat bukan sesuatu yang harus ditunda.
"Justru selagi masih diberikan kesempatan hidup, manusia memiliki waktu untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal kebaikan, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....