Peribahasa Indonesia Cerminkan Kesopanan dalam Berkomunikasi
- 31 Agt 2026 22:59 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kesopanan dan etika menjadi bagian penting dalam komunikasi antarpersonal. Selain menyampaikan pikiran dan perasaan, seseorang perlu memperhatikan hubungan dengan mitra tutur, termasuk menjaga perasaan serta menghormati lawan bicara, terlebih ketika hubungan keduanya tidak setara. Nilai-nilai kesopanan tersebut salah satunya dapat dipelajari melalui berbagai peribahasa Indonesia yang sarat dengan pesan moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKWMS Kampus Kota Madiun, Dra. Agnes Adhani, M.Hum., mengatakan masyarakat pada masa lalu terbiasa menyampaikan sesuatu secara tidak langsung melalui peribahasa. Pesan yang terkandung di dalamnya perlu dipahami dengan mencari makna yang tersembunyi.
“Orang-orang dulu terbiasa menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Kita harus mencari arti di balik itu sehingga menggunakan peribahasa. Peribahasa ini bisa digunakan untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam hidup,” ujar Agnes saat menjadi narasumber acara Ngobras di PRO 1 RRI Madiun, Senin 31 Agustus 2026.
Menurutnya, peribahasa tidak sekadar menjadi bagian dari kekayaan bahasa Indonesia, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai moral dan membentuk karakter.
“Kita hidup selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Kita berhubungan dengan mitra, bukan lawan bicara. Maka kita harus memperhatikan mitra bicara kita. Kita harus menempatkan mitra sebagai pihak yang perlu dihormati, respek, dan kita perlu santun,” jelasnya.
Agnes menilai, kesopanan dalam komunikasi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana dengan menerapkan tiga kata penting, yakni maaf, tolong, dan terima kasih. Menurutnya, nilai tersebut perlu kembali ditekankan dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
“Hidup itu kan modalnya hanya tiga kata: maaf, tolong, terima kasih. Dan nilai itu yang tampaknya kurang ditekankan. Belakangan pendidikan kita lebih mementingkan pendidikan otak, mengasah otak, tetapi akhlak dan nurani kurang diasah sehingga kepeduliannya kurang dan cenderung hanya lip service,” tambah Agnes.
Salah satu peribahasa yang mencerminkan kesopanan adalah “Datang tampak muka, pulang tampak punggung.” Peribahasa tersebut mengajarkan tata krama ketika seseorang bertamu atau berada di tempat orang lain.Saat datang, seseorang hendaknya menunjukkan sikap yang baik, meminta izin, dan menyapa tuan rumah. Sementara ketika pulang, seseorang perlu berpamitan dengan baik, tidak pergi secara diam-diam, serta tetap memberikan salam atau meminta izin.
Peribahasa lain yang juga relevan dengan etika dalam kehidupan sosial adalah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Peribahasa ini mengajarkan agar seseorang mampu beradaptasi serta menghormati adat istiadat, aturan, dan budaya yang berlaku di tempat ia berada.
Kemudian ada “Berjalan peliharalah kaki, berbicara peliharalah lidah.” Peribahasa tersebut mengingatkan setiap orang untuk berhati-hati dalam tindakan maupun ucapan agar tidak menimbulkan masalah atau penyesalan di kemudian hari.
Sementara itu, peribahasa “Berani karena benar, takut karena salah” menggambarkan karakter seseorang yang menjunjung kejujuran dan kebenaran. Orang yang melakukan sesuatu dengan benar akan memiliki keberanian untuk menghadapi atau membela kebenaran. Sebaliknya, orang yang berbuat salah atau berbohong cenderung merasa takut. Menurut Agnes, keberanian mengakui kesalahan juga menjadi bagian dari kesadaran diri ketika seseorang menyadari telah melanggar aturan atau melakukan kekeliruan.
Ada pula peribahasa “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk.” Peribahasa ini mengajarkan kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu, kepandaian, maupun kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati dan tidak menyombongkan diri.
Di akhir dialog, Agnes berharap masyarakat tetap mengedepankan kesopanan dan etika dalam berkomunikasi. Ia menyoroti sejumlah kebiasaan komunikasi yang dinilai kurang mencerminkan perilaku manusia terdidik, seperti muntaber atau “mundur tanpa berita”, menuntut jawaban secara cepat, hingga tidak memperhatikan waktu ketika menghubungi orang lain. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat mencederai fungsi komunikasi yang seharusnya membangun kerja sama, menjaga hubungan, serta memperhatikan kesopanan antara penutur dan mitra tutur.
“Semoga kita bisa belajar semakin sopan dan bermartabat,” pungkas Agnes.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....