Membentuk Generasi Emas melalui Pendidikan Karakter sejak Dini
- 21 Agt 2026 17:18 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Masa golden age atau usia emas anak-anak adalah periode paling strategis untuk menanamkan nilai-nilai peduli lingkungan karena otak anak seperti gelas kosong yang siap diisi kebiasaan positif.
- Orang tua memegang peranan kunci dalam proses pembentukan cinta lingkungan pada anak, bukan hanya pendidikan formal di sekolah.
- Keteladanan langsung dari orang tua di rumah jauh lebih efektif daripada ribuan instruksi atau teori yang diberikan di sekolah dalam membentuk karakter peduli lingkungan anak.
RRI.CO.ID, Madiun - Membangun cinta lingkungan tidak bisa dilakukan secara instan saat seseorang sudah dewasa. Ir. Wuryantoro, M.P. dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka (Unmer) Madiun menekankan bahwa masa golden age atau usia emas anak-anak adalah periode paling strategis untuk menanamkan nilai-nilai peduli lingkungan.
Pada masa ini, otak anak ibarat gelas kosong yang sangat siap untuk diisi dengan kebiasaan-kebiasaan positif. Menurut Wuryantoro, orang tua memegang peranan kunci dalam proses ini.
Namun, pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui perintah atau teori di sekolah. Keteladanan langsung dari orang tua di rumah jauh lebih efektif daripada ribuan instruksi yang diberikan kepada anak.
"Penanaman karakter itu yang kata kuncinya sebenarnya kan keteladanan," ungkap Wuryantoro, kemarin.
Ketika orang tua terbiasa memilah sampah atau merawat tanaman di rumah, anak akan melihatnya sebagai perilaku yang alami. Inilah metode penanaman nilai yang paling kuat dalam kehidupan seorang anak.
Dalam prosesnya, pembentukan karakter ini melewati tiga tahapan krusial, yaitu knowing, feeling, dan doing. Anak perlu tahu apa fungsi lingkungan bagi kehidupan, kemudian merasakan keterikatan emosional dengannya, hingga akhirnya mempraktikkan kepedulian itu dalam kegiatan sehari-hari.
Tantangan era modern yang serba teknologi sering kali membuat pendidikan karakter terabaikan, karena orang tua cenderung lebih fokus pada kecerdasan akademik. Padahal, teknologi hanyalah alat yang netral.
"Tanpa karakter yang baik, kemajuan teknologi justru bisa disalahgunakan untuk merusak lingkungan," katanya.
Jika sejak kecil anak sudah terbiasa mencintai lingkungan, maka perilaku peduli akan menjadi bagian dari karakter mereka hingga dewasa. Dengan demikian, ketika mereka nanti menjadi pengambil kebijakan atau pemimpin bangsa, orientasi mereka akan selalu berpihak pada pelestarian alam dan kesejahteraan lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....