Merdeka dari Penilaian Orang Lain: Belajar Menjadi Diri Sendiri

  • 19 Agt 2026 10:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Bulan Agustus identik dengan perayaan kemerdekaan. Namun, di balik semarak peringatan Hari Kemerdekaan, ada pertanyaan yang menarik untuk direnungkan dari sudut pandang psikologi: apakah kita sudah benar-benar merdeka?. Kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai kebebasan untuk menjadi diri sendiri.

Kenyataannya, masih banyak orang yang terjebak dalam ketakutan terhadap penilaian orang lain. Takut dianggap gagal, takut dianggap berbeda, takut tidak diterima, hingga takut mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan harapan lingkungan.

“Merasa belum benar-benar merdeka atau bebas. Terjebak dalam ketakutan terhadap penilaian orang lain. Bukan takut tidak bisa menjadi diri sendiri, tapi takut dianggap gagal sama orang lain atau takut dianggap berbeda. Hal inilah yang perlu kita coba lihat ke dalam diri kita di tengah perayaan kemerdekaan. Apakah kita sudah benar-benar merdeka?” Disampaikan Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi UKWMS, saat menjadi narasumber dalam acara Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, ketakutan terhadap penilaian orang lain biasanya berkaitan dengan rasa takut ditolak. Secara alami, otak manusia memandang penolakan sebagai sesuatu yang mengancam. Karena itu, seseorang dapat terdorong untuk menyesuaikan diri agar tetap diterima oleh lingkungan.

Rasa takut tersebut dapat dipengaruhi berbagai pengalaman dalam kehidupan, mulai dari pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, perundungan, hubungan pertemanan, hingga pengalaman kegagalan.

“Ketika kita mau action, terus habis itu kita bertanya, nanti orang akan bilang apa kalau aku begini? Nanti orang suka atau enggak kalau misalnya aku begini? Nah, itu adalah salah satu hal yang menjadikan kita terjebak dalam ketakutan itu. Takut nanti akan di-judge, takut nanti akan dihakimi dan takut akan dilabel,” kata Robik.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah tanda ketika seseorang belum sepenuhnya merdeka secara psikologis dan masih sangat bergantung pada penilaian orang lain. Di antaranya adalah sulit mengambil keputusan tanpa meminta pendapat orang lain, terlalu memikirkan komentar atau kritik, serta merasa tidak percaya diri ketika tidak mendapatkan pujian.

“Tanda berikutnya, mau tidak mau meski kita tidak nyaman, kita mengubah perilaku agar lebih diterima sama society, takut mengungkapkan pendapat yang berbeda, terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Apakah itu dengan tetangga sendiri atau di media sosial,” tambah Robik.

Menurut Robik, menjadi diri sendiri bukanlah proses instan. Seseorang perlu mengenali dirinya secara bertahap dan memahami apa yang benar-benar diinginkan, bukan sekadar mengikuti ekspektasi orang lain.

“Gimana sih caranya kita menjadi versi orisinalnya kita? Solusinya adalah coba kenali dirimu. Prosesnya tidak hanya seminggu, dua minggu karena butuh proses yang lama,” jelasnya.

Ia menyarankan tiga pertanyaan sederhana yang dapat digunakan sebagai bahan refleksi untuk mulai mengenali diri sendiri, yakni: Apa yang benar-benar saya inginkan? Apakah keputusan yang saya ambil berasal dari diri saya sendiri? Apakah saya menjalani hidup sesuai nilai yang saya yakini?

Ketiga pertanyaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengevaluasi apakah kehidupan yang dijalani benar-benar berasal dari pilihan pribadi atau masih banyak ditentukan oleh penilaian dan ekspektasi orang lain.

Di tengah perayaan kemerdekaan, refleksi tersebut menjadi penting. Sebab, kemerdekaan secara psikologis bukan berarti tidak peduli terhadap pendapat orang lain, melainkan mampu mendengarkan pendapat tersebut tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Dengan mengenali diri, menerima kekurangan dan kelebihan, serta berani mengambil keputusan berdasarkan nilai yang diyakini, seseorang dapat perlahan melepaskan diri dari ketakutan akan penilaian orang lain.

Merdeka, pada akhirnya, bukan hanya tentang bebas menentukan langkah, tetapi juga berani menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus meminta izin kepada penilaian orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....