Keterlambatan Berjalan dan Bicara pada Anak Perlu Diwaspadai Orangtua
- 12 Agt 2026 11:32 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID,Madiun – Keterlambatan berjalan dan perkembangan bicara pada anak perlu menjadi perhatian orangtua. Namun, persoalan tersebut sering kali baru disadari ketika anak telah memasuki usia tertentu dan mulai menunjukkan gangguan dalam kemampuan berbicara maupun berkomunikasi. Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan orangtua perlu mulai waspada apabila anak belum mampu berjalan secara mandiri hingga usia 18 bulan.
“Batasnya 18 bulan. Jika belum bisa berjalan secara mandiri, maka orangtua harus patut waspada. Apakah kurang ada kemauan dari anak untuk mengeksplorasi lingkungan atau ada gangguan otot kaki dan sebagainya,” kata Arif saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Arif, perkembangan motorik kasar dan motorik halus pada anak memiliki keterkaitan dengan perkembangan kemampuan bicara. Kemampuan motorik kasar seperti berdiri, berjalan, melompat hingga berlari menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Gangguan pada kemampuan motorik dapat membuat anak mengalami keterbatasan dalam mengeksplorasi lingkungan. Anak bisa menjadi takut untuk merangkak, melompat atau berjalan, sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menjadi berkurang.
“Perkembangan motorik kasar dan halus saling berhubungan. Sebagai contoh, kemampuan motorik kasar seperti berdiri, berjalan, melompat dan berlari dengan tegak ini berpengaruh terhadap produksi suara,” jelasnya.
Selain kemampuan berjalan, orangtua juga perlu memperhatikan perkembangan komunikasi sejak usia dini. Arif menyebut, pada usia enam hingga delapan bulan, anak yang belum menunjukkan respons maupun belum mulai mengoceh perlu mendapat perhatian lebih.
“Kemampuan bicara enam sampai delapan bulan, anak belum bisa merespon, belum bisa mengoceh, maka orangtua harus waspada. Batas akhirnya 18 bulan,” ujar Arif.
Gangguan motorik kasar, lanjutnya, dapat berdampak pada kemandirian anak. Anak bisa menjadi terlalu bergantung pada orang lain dan cenderung manja. Sementara gangguan motorik halus dapat membuat anak lebih mudah marah dan kurang siap mengikuti aktivitas akademis. Gejala lainnya dapat terlihat dari postur tubuh anak yang kurang kuat, takut menaiki tangga karena khawatir terjatuh, enggan mencoba hal baru hingga postur tubuh yang cenderung membungkuk.
Sementara itu, gangguan perkembangan bicara dapat membuat orang lain kesulitan memahami keinginan anak. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
Arif menekankan, pengamatan terhadap tumbuh kembang anak harus dilakukan secara holistik. Orangtua tidak hanya melihat kemampuan bicara, tetapi juga perlu memperhatikan perkembangan motorik kasar, motorik halus hingga kemampuan motorik oral.
Apabila ditemukan adanya keterlambatan atau gangguan perkembangan, anak perlu mendapatkan penanganan yang sesuai, termasuk melalui terapi fisioterapi sesuai kebutuhan dan hasil pemeriksaan. Dengan pemantauan sejak dini, orangtua diharapkan dapat mengenali tanda-tanda keterlambatan perkembangan sehingga intervensi dapat diberikan lebih cepat dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....