Cuaca Madiun Raya 9-11 Agustus, Cerah - Cerah Berawan, Udara Kabur, Peluang Hujan Rendah
- 09 Agt 2026 11:16 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk merilis, musim kemarau semakin terasa di berbagai wilayah Jawa Timur, ditandai dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya periode hari tanpa hujan. Kondisi itu sejalan dengan perkembangan indikator iklim global, di mana indeks Niño 3.4 sebesar +2,02 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar −27,7 menunjukkan kondisi El Niño kuat, sementara Indian Ocean Dipole (IOD) sebesar +0,63 mengindikasikan kecenderungan menuju fase positif. Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, kombinasi kondisi tersebut secara umum dapat mengurangi pembentukan awan hujan dan suplai uap air ke wilayah Indonesia, sehingga meningkatkan peluang terjadinya kondisi lebih kering, termasuk di Jawa Timur yang dapat meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
”Di Jawa Timur, kondisi ini berpotensi meningkatkan pengeringan tanah dan vegetasi serta memperpanjang periode tanpa hujan, sehingga risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi lebih tinggi,” ungkap Setiyaris, Minggu 9 Agustus 2026.
Sementara untuk prospek cuaca wilayah Madiun Raya 9-11 Agustus 2026 didominasi kondisi cerah, cerah berawan, hingga udara kabur (haze) dengan peluang hujan yang sangat rendah.
Pagi hari, cuaca cerah hingga cerah berawan, dengan potensi udara kabur (haze) atau kabut tipis terutama di wilayah lereng pegunungan seperti Magetan dan Ponorogo serta pesisir selatan Pacitan. Suhu udara berkisar 18–25°C dengan kelembapan relatif 75–95%, sementara angin bertiup dari Timur–Tenggara dengan kecepatan sekitar 5–15 km/jam.
Siang hari, cuaca cerah terik dengan tutupan awan sangat minim (clear sky) dan hampir tidak terdapat potensi pembentukan awan hujan. Suhu udara meningkat hingga 28–35°C, dengan suhu tertinggi berpotensi terjadi di dataran rendah seperti Ngawi, Kota Madiun, dan Kabupaten Madiun, sementara kelembapan turun menjadi sekitar 40–60% sehingga udara terasa lebih kering. Angin Tenggara hingga Barat Daya juga cenderung menguat dengan kecepatan sekitar 15–35 km/jam.
Malam hingga dini hari, cuaca cerah hingga berawan tipis, kemudian pada dini hari berpotensi muncul udara kabur (haze) di dataran rendah serta kabut tipis di kawasan pesisir Pacitan dan lereng Gunung Lawu. Suhu udara menurun secara bertahap dari 21–26°C pada malam hari menjadi 16–20°C pada dini hari, dengan kelembapan meningkat dari 65–85% menjadi 85–99% dan mendekati titik embun. Angin tetap dominan dari Tenggara hingga Selatan–Tenggara, dengan kecepatan sekitar 5–20 km/jam, dan cenderung melemah pada dini hari.
Menghadapi puncak musim kemarau, Setiyaris menghimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan air, menggunakan pelindung dari paparan matahari, serta mengenakan pakaian hangat pada malam hingga dini hari untuk mengantisipasi suhu dingin (bediding). Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan juga perlu ditingkatkan dengan tidak membakar sampah, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu api, karena kondisi vegetasi yang kering dan angin yang cukup kencang dapat mempercepat penyebaran api. (Shabrina).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....