Cuaca Madiun Raya 17 September 2026 Didominasi Cerah – Berawan, Suhu Relatif Hangat.
- 17 Sep 2026 06:35 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Nganjuk merilis, berdasarkan pantauan BMKG hingga Dasarian I September 2026, sebagian besar wilayah Jawa Timur telah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan atmosfer relatif kering dan semakin panjangnya Hari Tanpa Hujan (HTH). Bahkan di sejumlah wilayah telah mencapai kriteria kekeringan ekstrem, yaitu lebih dari 60 hari. Kondisi ini diperkuat oleh pengaruh El Niño yang masih berada pada kategori sangat kuat, dengan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 mencapai +2,76°C. Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris mengatakan, Selain itu penguatan monsun Australia turut meningkatkan kecepatan angin yang berpotensi mempercepat pengeringan vegetasi dan penyebaran api. Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi secara lokal di beberapa wilayah Indonesia, bergantung pada kondisi atmosfer dan faktor cuaca setempat.
Sementara untuk cuaca wilayah cuaca Madiun Raya diprakirakan didominasi cuaca cerah hingga berawan dengan suhu yang relatif hangat.
Pada pagi hari Madiun, Ngawi, dan Ponorogo kondisi cerah hingga cerah berawan, sedangakan Magetan dan Pacitan cenderung terasa lebih dingin.
”Cuaca Madiun Raya pada siang hari khususnya Madiun, Ngawi, dan Ponorogo cenderung paling terik dengan langit cerah hingga cerah berawan sedangkan Magetan, khususnya wilayah lereng Gunung Lawu, suhu lebih nyaman sekitar 26–29°C dengan kondisi lebih berawan akibat pengaruh orografis,” ungkap Setiyaris.
Pada Malam hingga dini hari, Madiun, Ngawi, dan Ponorogo cenderung cerah dengan awan sangat minim. Sedangkan wilayah Magetan, khususnya lereng Gunung Lawu, akan terasa lebih dingin dengan suhu 16–19°C. Setiyaris menghimbau masyarakat untuk tetaap waspada cuaca panas, udara kering, dan angin kencang selama musim kemarau dengan menjaga kecukupan cairan, serta menghindari aktivitas di bawah terik matahari terlalu lama. Kondisi kering juga meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, sehingga masyarakat perlu menghemat air, tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan. (Shabrina).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....