Ada Apa Dengan Bulan Shofar

  • 28 Jul 2026 11:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Anggapan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan, musibah, dan berbagai keburukan masih dijumpai di tengah masyarakat. Padahal, pandangan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam dan merupakan warisan kepercayaan masyarakat jahiliyah.

Hal itu disampaikan Ustadz Shofar, S.Pd.I., SM. saat menjadi narasumber dalam program Mutiara Pagi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu (25/7/2026).

"Dahulu orang-orang jahiliyah, ketika masuk bulan Safar mereka dihantui dengan kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan. Mengapa mereka takut dengan bulan Safar? Karena mereka menganggap bahwa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan keburukan, penuh musibah, dan marabahaya," ujar Ustadz Shofar.

Menurutnya, kedatangan Nabi Muhammad SAW tidak hanya meluruskan tata cara ibadah umat manusia, tetapi juga mengubah cara berpikir mereka yang masih dipengaruhi oleh takhayul dan keyakinan yang keliru.

"Maka datanglah Nabi Muhammad SAW, bukan hanya mengubah cara ibadah mereka yang sesat, tetapi juga membebaskan pikiran mereka dari belenggu setan dan iblis," katanya.

Ustadz Shofar menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan penjelasan secara tegas mengenai anggapan kesialan pada bulan Safar melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari.

"Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (sebagai pertanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa," jelasnya mengutip hadis Rasulullah SAW.

Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk menyikapi bulan Safar dengan memperkuat keimanan kepada Allah SWT, bukan dengan mempercayai berbagai mitos yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, seorang mukmin hendaknya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan merupakan ketetapan dan takdir Allah SWT.

"Kesialan atau musibah yang diterima seseorang bukan disebabkan karena berada di hari tertentu, bulan tertentu, atau melakukan sesuatu. Anggapan itu sepenuhnya salah dan merupakan tipu daya setan," tegasnya.

Ustadz Shofar menambahkan bahwa bulan Safar tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya dalam kalender Hijriah. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

"Di bulan Safar, umat Islam hendaknya meningkatkan amal saleh, memperbanyak salat, sehingga tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa khawatir dalam menjalani kehidupan," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....