Psikolog Jelaskan Faktor Gen Z Mudah Terjerat Judi Online

  • 10 Jul 2026 04:44 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perkembangan teknologi digital membuat akses terhadap berbagai layanan di internet semakin mudah, termasuk perjudian daring atau judi online. Fenomena ini menjadi perhatian karena Generasi Z dinilai sebagai salah satu kelompok yang rentan terjerat akibat tingginya intensitas penggunaan media digital.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor psikologis dan sosial yang membuat Gen Z lebih mudah tertarik mencoba judi online. Menurutnya, salah satu faktor utama adalah rasa penasaran yang tinggi terhadap hal-hal baru di dunia digital.

“Generasi Z tumbuh di lingkungan yang sangat dekat dengan internet. Ketika mereka melihat promosi atau cerita tentang kemenangan dari judi online, rasa ingin tahu bisa muncul dan mendorong keinginan untuk mencoba,” ujarnya, kemarin.

Selain rasa penasaran, Andi menilai budaya serba instan juga memengaruhi cara pandang sebagian anak muda terhadap uang dan kesuksesan. Banyak konten di media sosial yang menampilkan keuntungan besar dalam waktu singkat, sehingga menciptakan persepsi bahwa mendapatkan uang dengan cepat adalah hal yang mudah.

“Ketika seseorang terbiasa melihat hasil instan, ia bisa lebih mudah tergoda oleh tawaran yang menjanjikan keuntungan cepat tanpa mempertimbangkan risiko yang sebenarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, faktor fear of missing out (FOMO) atau takut tertinggal juga dapat berperan. Melihat teman atau lingkungan membicarakan judi online, meskipun hanya sebagai candaan atau tren, dapat memunculkan dorongan untuk ikut mencoba agar tidak merasa berbeda.

“Pengaruh lingkungan dan teman sebaya sangat kuat pada usia remaja dan dewasa muda. Jika tidak memiliki kontrol diri yang baik, seseorang bisa ikut terpengaruh,” tambah Andi.

Menurutnya, rendahnya literasi digital dan literasi keuangan juga menjadi faktor penting. Sebagian Gen Z belum sepenuhnya memahami cara kerja judi online, peluang kerugian yang besar, maupun dampaknya terhadap kondisi finansial dan psikologis.

Dari sisi psikologis, Andi menjelaskan bahwa judi online memanfaatkan mekanisme harapan dan sensasi emosional. Kemenangan kecil di awal dapat membuat seseorang merasa yakin akan kembali menang, sehingga terus mencoba meskipun sebenarnya lebih banyak mengalami kerugian.

“Perasaan ‘mungkin kali ini menang’ bisa membuat seseorang sulit berhenti. Ini yang membuat judi online berisiko berkembang menjadi perilaku yang berulang,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa keterlibatan dalam judi online dapat memicu berbagai masalah, seperti stres, kecemasan, gangguan tidur, konflik dengan keluarga, hingga masalah keuangan yang berkepanjangan.

Untuk mencegah hal tersebut, Andi menyarankan Gen Z memperkuat kontrol diri, membatasi paparan konten perjudian, serta mengisi waktu dengan aktivitas yang lebih produktif seperti mengembangkan keterampilan, berolahraga, atau bergabung dalam komunitas positif.

“Anak muda perlu memahami bahwa tidak ada jalan pintas menuju keberhasilan. Kemampuan, kerja keras, dan proses yang konsisten jauh lebih aman dan berkelanjutan dibanding mengejar keuntungan instan,” bebernya.

Ia berharap keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar turut berperan dalam memberikan edukasi mengenai risiko judi online dan pentingnya penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

“Teknologi seharusnya menjadi alat untuk berkembang, bukan justru menjadi pintu masuk bagi kebiasaan yang merugikan masa depan,” tegasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....