Pentingnya Kesiapan Mental Anak jelang Masuk Sekolah
- 12 Jul 2026 19:03 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun - Kesiapan mental anak dinilai menjadi faktor utama yang perlu dipersiapkan orang tua menjelang dimulainya tahun ajaran baru. Persiapan ini dinilai penting bagi anak yang akan memasuki jenjang SD, SMP, maupun SMA karena setiap fase pendidikan memiliki tantangan perkembangan yang berbeda.
Wakil Ketua PGRI Jawa Timur sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Kota Madiun Hariyadi mengatakan kesiapan mental memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan kesiapan akademik. Menurut dia, kesiapan mental menjadi fondasi bagi anak untuk menjalani proses belajar di sekolah.
"Kalau dipersentasekan, kesiapan mental sekitar 70 persen, sedangkan akademik 30 persen. Kesiapan mental itu ibarat pondasi rumah, sedangkan akademik adalah bangunannya. Rumah bertingkat tidak akan berdiri kokoh jika pondasinya lemah," kata Hariyadi, kemarin.
Ia mengatakan kesiapan mental akan membantu anak menjalani proses belajar dengan rasa aman, nyaman, dan tanpa tekanan. Karena itu, orang tua maupun sekolah perlu membangun rasa percaya diri dan kemampuan beradaptasi anak sebelum menuntut capaian akademik.
Menurut Hariyadi, tantangan yang dihadapi anak berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Anak yang beralih dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar, misalnya, harus beradaptasi dari suasana belajar yang didominasi bermain menjadi pembelajaran yang lebih terstruktur.
"Di SD anak mulai dituntut membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga belajar lebih mandiri dibandingkan saat masih di TK yang sebagian besar aktivitasnya masih didampingi orang tua," terangnya.
Memasuki jenjang SMP, kata Hariyadi, anak menghadapi masa transisi menuju remaja yang ditandai perubahan psikologis, emosi, dan meningkatnya rasa ingin tahu. Adapun pada jenjang SMA, tantangan lebih banyak berkaitan dengan kemandirian dan penentuan minat maupun rencana pendidikan lanjutan.
Ia menilai peran guru bimbingan dan konseling penting untuk membantu siswa mengenali potensi diri sehingga mampu menentukan pilihan sesuai kemampuan dan minatnya.
Psikolog Klinis RSUD Dungus Madiun, Zulfany Safira Nabila, M.Psi., Psikolog, mengatakan persiapan anak sebaiknya dimulai beberapa hari sebelum sekolah kembali aktif. Selama masa libur, pola tidur dan rutinitas anak umumnya berubah sehingga perlu dikembalikan secara bertahap.
"Selama liburan ritme biologis anak berubah. Mereka bisa bangun lebih siang, sarapan lebih lambat, atau bermain lebih dulu sebelum mandi. Ketika sekolah dimulai kembali, perubahan mendadak itu bisa memunculkan rasa kaget dan kecemasan," kata Zulfany.
Ia menyarankan orang tua mulai membiasakan kembali rutinitas sekolah sekitar sepekan sebelum hari pertama masuk. Anak dapat diajak bangun pagi, mandi, sarapan, dan mengenakan pakaian rapi sesuai jadwal sekolah agar tubuh kembali beradaptasi.
Menurut Zulfany, orang tua tidak hanya berperan sebagai pihak yang menanamkan disiplin, tetapi juga menjadi figur yang memberikan rasa aman bagi anak. Penyusunan jadwal belajar, bermain, dan beristirahat sebaiknya dilakukan bersama agar anak merasa memiliki tanggung jawab terhadap rutinitas yang dijalani.
Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan saat anak belajar di rumah, terutama bagi siswa sekolah dasar yang belum memiliki motivasi belajar secara mandiri. Orang tua, kata dia, perlu mengawasi penggunaan gawai agar tidak mengganggu waktu belajar.
Selain itu, Zulfany menilai orang tua perlu lebih menghargai proses belajar daripada semata-mata mengejar hasil. Apresiasi terhadap usaha anak dinilai dapat meningkatkan motivasi belajar dan membentuk kebiasaan positif yang akan terbawa ke lingkungan sekolah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....