Orang Tua Perlu Bijak Kenalkan Anak pada Dunia Digital
- 12 Jul 2026 13:20 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Ketertarikan anak terhadap gadget bukanlah sesuatu yang muncul tanpa alasan. Berbagai fitur yang tersedia dalam satu perangkat membuat anak dengan mudah memperoleh hiburan dan stimulasi, sehingga gadget menjadi sangat menarik bagi mereka.
Psikolog sekaligus Founder psikologanak.id dan dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa gadget menghadirkan berbagai kebutuhan hiburan hanya melalui satu perangkat yang berada dalam genggaman.
"Di dalam satu kotak itu sudah terdapat semuanya. Kapan kita mau mencari sesuatu, semuanya bisa didapatkan. Itulah yang membuat anak sangat tertarik dengan gadget," ujarnya,. Minggu (12/7/2026).
Menurut Robik, daya tarik utama gadget terletak pada kemampuannya memberikan stimulasi visual dan audio yang sangat mudah diakses. Padahal, anak merupakan individu yang sangat responsif terhadap berbagai rangsangan sensorik.
Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki lima sistem sensorik, yakni visual, auditorik, peraba, penciuman, dan pengecap. Dari kelima sensor tersebut, gadget paling banyak merangsang indra penglihatan dan pendengaran.
"Anak sangat cepat terstimulasi secara visual. Gadget menjadi sumber stimulasi visual yang sangat mudah diperoleh. Ketika mereka mendapat stimulasi itu, muncul reward instan. Hanya dengan melihat layar, mereka sudah merasa terhibur," jelasnya.
Akibatnya, lanjut Robik, perhatian anak menjadi sangat terfokus pada tampilan layar dan suara yang muncul dari gadget. Bahkan, tidak sedikit anak yang tetap asyik menatap layar meski sedang dipanggil oleh orang tuanya.
"Konten di gadget bergerak sangat cepat sehingga anak semakin terpaku pada visual dan auditorinya. Itu sebabnya kadang dipanggil pun tidak merespons karena fokusnya tersedot ke layar," katanya.
Meski demikian, Robik menegaskan bahwa solusi bukanlah melarang anak menggunakan gadget sepenuhnya. Menurutnya, anak-anak yang lahir pada era sekarang merupakan generasi digital native sehingga tetap perlu mengenal teknologi.
Namun, pengenalan gadget harus disesuaikan dengan tahapan usia dan perkembangan anak.
"Boleh mengenalkan gadget karena mereka adalah digital native. Tetapi perhatikan dulu usianya. Jangan anak usia dua tahun langsung diberikan handphone. Nantinya justru orang tua sendiri yang akan kerepotan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan gadget yang terlalu dini tanpa pendampingan dapat berdampak pada perkembangan kemampuan berbahasa anak. Dalam praktiknya sebagai psikolog, Robik mengaku cukup sering menerima keluhan dari orang tua mengenai anak yang mengalami keterlambatan berbicara.
"Banyak orang tua mengeluhkan anak usia tiga atau empat tahun belum bisa berbicara dengan baik. Setelah ditelusuri, salah satu stimulasi yang paling dominan diberikan adalah gadget," ungkapnya.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua agar tidak menjadikan gadget sebagai pengasuh utama anak. Pendampingan, interaksi langsung, bermain bersama, serta komunikasi tatap muka tetap menjadi stimulasi terbaik untuk mendukung tumbuh kembang anak.
"Anak memang harus berinteraksi dengan teknologi karena mereka hidup di era digital. Tetapi penggunaan gadget tetap harus dibatasi, disesuaikan dengan usia, dan selalu didampingi orang tua agar manfaatnya lebih besar daripada risikonya," sebutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....