Amalan Bulan Muharram, dari Sedekah hingga Puasa Asyura

  • 19 Jun 2026 10:33 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Bulan Muharram menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan amalan kebaikan. Seorang Ustadz di Madiun, Amir Abdullah M.Pd menegaskan bahwa Muharram termasuk bulan yang dimuliakan oleh Allah, sehingga setiap amal, sekecil apa pun, memiliki nilai pahala yang besar.

Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, baik yang berkaitan dengan hubungan kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Salah satu amalan utama yang dianjurkan di bulan Muharram adalah bersedekah.

Ustadz Amir mengatakan bahwa sedekah tidak terbatas hanya kepada anak yatim, tetapi lebih luas kepada siapa saja yang membutuhkan.

"Makanya sebenarnya bersedekah di bulan ini bukan hanya sekedar kepada anak yatim, namun kepada siapa saja, karena besarnya pahala," ungkapnya.

Hal ini menunjukkan bahwa esensi sedekah adalah membantu dan memberdayakan orang lain agar lebih mampu menjalani kehidupan. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam bersedekah.

Menurutnya, bantuan sebaiknya diberikan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan, agar manfaatnya lebih terasa.

“Sehingga orang-orang di sekitar kita yang tidak yatim tapi dia lebih membutuhkan itulah yang kita dahulukan,” ujarnya.

Dengan demikian, sedekah tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan sosial. Selain sedekah, amalan lain yang dianjurkan adalah berpuasa, khususnya pada tanggal 9 dan 10 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Tasua dan Asyura.

“Yang istilahnya dipraktikkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah Asyura tanggal 10 Muharram," tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa Rasulullah berkeinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 sebagai penyempurna, meskipun belum sempat terlaksana. Keutamaan puasa di bulan Muharram sangat besar, bahkan tidak terbatas hanya pada hari-hari tertentu.

Umat Islam diperbolehkan berpuasa sepanjang bulan tersebut selama tidak bertentangan dengan hari yang diharamkan.

“Jadi memang yang dianjurkan adalah tanggal 9 dan 10. Namun misalnya pemirsa mungkin puasa hari ini, tanggal pertama sampai tanggal 8 itu juga bagus,” jelasnya.

Hal ini membuka peluang luas bagi umat untuk memperbanyak ibadah puasa. Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah mempercayai amalan yang tidak memiliki dasar syariat, seperti tradisi minum susu saat 1 Muharram.

"Kalau berkaitan dengan tuntunan hadisnya tidak ada," sebutnya.

Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut hanya bersifat simbolik sebagai harapan menjadi pribadi yang lebih bersih di tahun baru. Dengan memahami amalan yang benar, umat Islam diharapkan dapat mengisi bulan Muharram dengan ibadah yang tepat dan bernilai tinggi di sisi Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....