Kenali Penyebab & Tanda Anak Mengalami Over Stimulasi

  • 05 Mei 2026 23:41 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Fenomena overstimulasi pada anak semakin menjadi perhatian di tengah pola hidup modern yang serba cepat dan padat aktivitas. Orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul, agar dapat memberikan penanganan yang tepat sejak dini. Menurut Robik Anwar Dani, seorang psikolog sekaligus Founder Psikologianak.id dan dosen psikologi di UKWMS, overstimulasi terjadi ketika anak menerima rangsangan berlebihan, baik secara fisik maupun mental.

“Ada beberapa faktor yang berkontribusi terjadinya overstimulasi pada anak. Pertama, paparan gadget sejak dini. Sebenarnya screen time ini tidak hanya handphone, tetapi juga televisi, tablet, laptop, komputer, dan sebagainya,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa penggunaan layar perlu disesuaikan dengan usia anak. Untuk anak usia 0–2 tahun, idealnya tidak ada screen time sama sekali. Sementara anak usia 2–4 tahun dibatasi sekitar 5–10 menit, dan usia 4–6 tahun sekitar 10–15 menit per hari. Karena itu, pengawasan dan pembatasan dari orang tua menjadi hal yang sangat penting.

Selain paparan gadget, penyebab kedua adalah jadwal yang terlalu padat juga menjadi pemicu utama. Banyak anak kini harus menjalani aktivitas sekolah full day, dilanjutkan dengan les atau kegiatan tambahan lain tanpa jeda istirahat yang cukup.

“penyebeb ketiga Lingkungan yang bising dan ramai juga menjadi faktor lain. Ditambah lagi faktor keempat yaitu ekspektasi orang tua untuk mengoptimalkan kemampuan anak sejak dini. Di satu sisi ini niat baik, tapi di sisi lain anak bisa kehilangan ruang untuk beristirahat secara mental,” tambahnya.

Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda anak yang mengalami overstimulasi. Beberapa gejala yang umum muncul antara lain mudah tantrum tanpa sebab yang jelas, sulit fokus, serta tampak lelah tetapi sulit tidur. Tak hanya itu, anak juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap suara atau sentuhan, serta cenderung rewel setelah mengikuti aktivitas yang ramai. Dalam banyak kasus, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai perilaku “anak susah diatur”.

“Padahal bisa jadi anak sedang merasa kewalahan,” jelas Robik.

Dengan mengenali penyebab dan tanda-tandanya, orang tua diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur aktivitas anak, memberi waktu istirahat yang cukup, serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental anak sejak dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....