Mayoritas Faktor Ekonomi, Ratusan Anak di Magetan Harus Tinggalkan Bangku Sekolah
- 21 Jul 2026 19:43 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Persoalan ekonomi masih menjadi tantangan terbesar dalam upaya menuntaskan program wajib belajar 13 tahun di Kabupaten Magetan. Kondisi itu terungkap setelah Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) melakukan pendataan terhadap anak-anak yang tidak lagi melanjutkan pendidikan formal selama 2025.
Hasil pemetaan menunjukkan lebih dari 100 anak belum menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat. Mereka bukan seluruhnya tidak pernah mengenyam bangku sekolah, melainkan sebagian berhenti setelah lulus SMP, sementara lainnya memilih tidak melanjutkan pendidikan karena berbagai persoalan.
Kepala Dindikpora Magetan Suhardi mengatakan, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi alasan yang paling banyak ditemukan. Dalam sejumlah kasus, anak memutuskan membantu orang tua bekerja daripada meneruskan sekolah. Selain itu, persoalan psikologis, kondisi mental, hingga kebutuhan pendidikan khusus juga menjadi faktor yang menyebabkan mereka meninggalkan dunia pendidikan.
"Yang kami maksud putus sekolah adalah anak yang belum menuntaskan wajib belajar 13 tahun. Ada yang selesai SMP lalu bekerja membantu orang tua, ada juga yang tidak mau melanjutkan ke SMA karena mengalami kendala psikis. Jumlahnya sekitar seratus anak," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Berbeda dengan penanganan sebelumnya, Dindikpora kini memilih pendekatan berbasis pendampingan langsung. Tim diterjunkan ke rumah-rumah warga untuk memastikan penyebab setiap anak berhenti sekolah sebelum menentukan bentuk intervensi yang diperlukan.
Bagi keluarga yang terkendala biaya, pemerintah daerah menawarkan pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan dukungan pembiayaan. Sementara anak yang mengalami hambatan psikologis maupun berkebutuhan khusus mendapatkan layanan belajar melalui sistem homeschooling agar tetap memperoleh hak pendidikan.
"Kami tidak bisa menyamaratakan penanganannya. Karena itu kami datangi rumah mereka, kami cari tahu masalahnya. Kalau persoalannya ekonomi, kami arahkan ke PKBM dan biayanya disubsidi. Kalau berkaitan dengan kondisi psikis atau kebutuhan khusus, kami lakukan pendampingan melalui homeschooling," katanya.
Menurut Suhardi, efektivitas kedua program tersebut terus dipantau. Hasil evaluasi akan menjadi dasar bagi Dindikpora untuk menyusun langkah lanjutan apabila jumlah anak yang belum menuntaskan wajib belajar belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
Ia menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen memastikan setiap anak di Magetan memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan minimal hingga jenjang SMA atau sederajat. Bahkan, Dindikpora berharap semakin banyak lulusan yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi.
"Harapan kami sederhana, jangan sampai ada anak yang kehilangan hak untuk bersekolah. Apa pun kendalanya akan kami carikan jalan keluar agar mereka bisa menyelesaikan pendidikan, bahkan kalau memungkinkan sampai diploma atau perguruan tinggi," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....