Jemput Bola Tekan Angka Putus Sekolah, 100 Anak Lebih Didampingi Dikpora Magetan

  • 21 Jul 2026 19:29 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Magetan memilih melakukan pendekatan langsung ke rumah-rumah anak yang tidak lagi bersekolah sebagai upaya menekan angka putus sekolah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab setiap anak menghentikan pendidikannya sehingga penanganan yang diberikan lebih tepat sasaran.

Kepala Dindikpora Magetan, Suhardi, mengatakan setiap kasus memiliki latar belakang berbeda. Karena itu, petugas tidak hanya mendata jumlah anak yang berhenti sekolah, tetapi juga menggali persoalan yang dihadapi keluarga masing-masing.

"Kalau penyebabnya ekonomi, kami arahkan mengikuti pendidikan kesetaraan melalui PKBM dengan biaya yang disubsidi. Sedangkan bagi anak yang mengalami persoalan psikologis atau berkebutuhan khusus, kami lakukan pendampingan melalui homeschooling," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Berdasarkan pendataan Dindikpora, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 100 anak di Kabupaten Magetan yang belum menuntaskan program wajib belajar 13 tahun. Data tersebut mencakup anak yang berhenti setelah lulus SMP maupun siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau sederajat.

Menurut Suhardi, faktor ekonomi masih menjadi penyebab yang paling banyak ditemukan. Tidak sedikit anak memilih meninggalkan bangku sekolah untuk membantu orang tua mencari nafkah. Selain itu, persoalan psikologis, kondisi mental, hingga kebutuhan pendidikan khusus juga menjadi faktor yang membuat mereka enggan melanjutkan pendidikan.

"Data kami sekitar seratus anak. Yang dimaksud putus sekolah adalah anak yang belum menyelesaikan wajib belajar 13 tahun. Ada yang lulus SMP lalu bekerja membantu orang tua, ada juga yang tidak melanjutkan ke SMA karena mengalami kendala psikis," jelasnya.

Selain memberikan akses pendidikan melalui PKBM dan homeschooling, Dindikpora terus memantau perkembangan setiap peserta agar program yang dijalankan benar-benar mampu mengembalikan mereka ke dunia pendidikan. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan apabila masih ditemukan kendala di lapangan.

Dindikpora berharap jumlah anak yang tidak menyelesaikan pendidikan dapat terus ditekan dari tahun ke tahun. Pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk aktif melaporkan apabila menemukan anak yang berhenti sekolah agar dapat segera diberikan pendampingan.

"Harapan kami semua anak bisa menuntaskan wajib belajar, minimal sampai SMA atau sederajat. Kalau memungkinkan, tentu kami ingin mereka bisa melanjutkan hingga pendidikan tinggi," pungkas Suhardi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....