Perilaku Anak ADHD pada Jenjang Sekolah Menengah

  • 15 Agt 2026 11:37 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Anak dengan kondisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mengalami gangguan perkembangan saraf pada otak yang dapat memengaruhi kemampuan fokus, mengendalikan aktivitas, serta mengatur perilaku. Gejala yang muncul dapat berbeda sesuai dengan tahapan usia dan lingkungan yang dihadapi anak.

Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need DALTA OZORA Madiun, Arif Budi Santoso, mengatakan perilaku hiperaktif menjadi salah satu gejala yang paling menonjol pada anak ADHD, khususnya pada usia sekolah dasar atau di bawah enam hingga tujuh tahun.

“Jadi memang menurut penelitian, anak dengan ADHD yang paling menonjol pada usia sekolah dasar atau di bawah 6 atau 7 tahun yaitu perilaku hiperaktivitasnya, banyak geraknya, banyak aktivitasnya seperti digerakkan oleh mesin dan kurang tahu bahayanya,” ujar Arif saat menjadi narasumber dalam acara Ruang Disabilitas dan Inklusi di PRO 1 RRI Madiun, Sabtu 15 Agustus 2026.

Menurutnya, ketika anak mulai memasuki jenjang sekolah dasar, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan aktivitas fisik. Kesulitan dalam menyelesaikan tugas menjadi salah satu perilaku yang mulai terlihat dan dapat mengganggu proses pembelajaran.

“Karena mereka masih belum sekolah, dari segi kemampuan belum terlalu terlihat mengganggu. Tapi begitu masuk sekolah dasar, perilaku yang paling mengganggu adalah saat anak kesulitan menyelesaikan tugas pada satu waktu tertentu,” tambahnya.

Seiring bertambahnya usia dan memasuki jenjang sekolah menengah, karakteristik perilaku ADHD juga dapat terlihat dalam bentuk yang berbeda. Anak dapat mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dan duduk dalam waktu yang lama selama mengikuti pembelajaran.

“Kan anak itu bertambah usianya, meskipun gejala ADHD ini nampak pasti di usia 6 sampai 7 tahun. Nah, ketika di sekolah menengah perilaku yang terlihat adalah tidak bisa duduk dalam waktu lama, hilir mudik di dalam kelas, mengganggu teman lainnya, selalu cenderung berbicara tetapi tidak kontekstual,” kata Arif.

Selain perilaku hiperaktif dan impulsif, anak dengan ADHD juga dapat mengalami kesulitan dalam mengelola waktu. Kondisi tersebut dapat membuat anak kesulitan memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Arif menjelaskan, anak dengan ADHD juga kerap menunda pekerjaan atau tugas. Perilaku tersebut dikenal sebagai prokrastinasi. Menurutnya, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh rasa malas, melainkan dapat berkaitan dengan kesulitan anak dalam memulai dan mengelola pekerjaan yang dianggap membingungkan atau menimbulkan tekanan.

“Karena di sekolah anak dengan ADHD sulit untuk memperkirakan time management-nya. Selain itu juga sering menunda-nunda pekerjaan atau tugas secara sengaja atau istilahnya prokrastinasi. Kondisi ini sering terjadi bukan karena malas, tetapi akibat otak menghindari rasa stres atau bingung harus mulai dari mana,” jelas Arif.

Dengan demikian, perilaku anak dengan ADHD pada jenjang sekolah menengah perlu dipahami sebagai bagian dari kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi fungsi perhatian, pengendalian impuls, dan pengelolaan aktivitas. Dukungan dari sekolah, keluarga, serta lingkungan sekitar menjadi penting agar anak tetap dapat mengikuti proses pembelajaran dan mengembangkan kemampuannya secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....