Kenali Pemicu guna Cegah Perilaku Self-Harm pada Anak Berkebutuhan Khusus
- 08 Agt 2026 16:35 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Orang tua dan pendamping anak berkebutuhan khusus perlu mengenali tanda-tanda awal serta pemicu munculnya perilaku menyakiti diri atau self-harm. Pengenalan terhadap kondisi tersebut dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum perilaku berkembang menjadi lebih berat. Hal tersebut disampaikan Pemilik Sekolah Anak Autis dan Special Need Delta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi Programa 1 RRI Madiun belum lama ini.
Menurutnya, perilaku self-harm tidak hanya terjadi pada anak berkebutuhan khusus, namun lebih sering terlihat pada anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi maupun komunikasi. Arif menjelaskan, perilaku tersebut dapat muncul ketika anak mengalami overstimulation atau kelebihan rangsangan dari lingkungan. Pemicu dapat berupa suara yang terlalu keras, cahaya, keramaian, sentuhan, maupun gerakan tertentu yang membuat anak merasa tidak nyaman.
“Biasanya ada tanda awalnya. Misalnya ekspresi wajah berubah, anak terlihat gelisah, tidak merespons ketika diajak bicara, hingga muncul gerakan tertentu. Ini merupakan tanda yang harus diwaspadai,” jelas Arif.
Menurutnya, ketika tanda-tanda awal tersebut mulai terlihat, orang tua maupun pendamping sebaiknya tidak menunggu hingga anak benar-benar mengalami ledakan emosi. Aktivitas yang sedang dilakukan dapat dialihkan ke kegiatan lain yang lebih disukai dan membuat anak merasa nyaman, sehingga kondisi emosinya dapat lebih terkendali. Arif juga menekankan pentingnya memahami perbedaan antara tantrum dan meltdown. Tantrum umumnya berkaitan dengan keinginan anak yang tidak terpenuhi, sedangkan meltdown dapat terjadi karena anak mengalami rangsangan sensorik yang berlebihan.
Dalam kondisi anak mulai mengalami emosi yang kuat, orang tua diminta tetap tenang dan tidak langsung memenuhi keinginan anak hanya agar perilaku tersebut berhenti. Lingkungan sekitar juga perlu dikondisikan dengan mengurangi suara atau rangsangan lain yang dapat memperburuk keadaan.
“Kalau kita sudah tahu penyebabnya, kita bisa melakukan penanganan sesuai dengan pemicunya. Kalau karena suara yang terlalu keras, kita hindarkan terlebih dahulu. Kalau karena sentuhan, jangan terlalu sering disentuh. Tetapi secara bertahap anak juga perlu diperkenalkan dengan berbagai kondisi agar toleransinya meningkat,” ungkapnya.
Arif menambahkan, anak juga dapat diberikan pendampingan melalui terapi yang sesuai, termasuk aktivitas yang membantu meningkatkan toleransi terhadap rangsangan sensorik. Orang tua perlu mengamati pola perilaku anak dan mengenali profil sensorinya agar dapat mengetahui kondisi yang berpotensi menjadi pemicu. Ia mengingatkan, perilaku menyakiti diri yang tidak ditangani dengan tepat dapat terus terbawa hingga anak beranjak dewasa. Karena itu, apabila perilaku terus muncul atau sulit dikendalikan, orang tua perlu melakukan evaluasi bersama tenaga ahli sesuai kondisi anak.
Melalui pemahaman yang tepat, orang tua diharapkan tidak hanya berfokus menghentikan perilaku self-harm, tetapi juga memahami penyebab di balik perilaku tersebut. Dengan demikian, anak dapat memperoleh dukungan yang sesuai untuk belajar mengelola emosi, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan lingkungan secara bertahap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....