Kenali Tanda Awal Self Harm pada Anak Berkebutuhan Khusus agar Dapat Dicegah

  • 03 Agt 2026 12:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal sebelum anak berkebutuhan khusus melakukan self-harm atau menyakiti diri sendiri. Dengan mengenali gejala sejak dini, orang tua dapat segera mengambil langkah yang tepat untuk mencegah perilaku tersebut berkembang menjadi lebih berat.

Pemilik Sekolah Anak Autis & Special Need Dalta Ozora Madiun, Arif Budhi Santoso, mengatakan perilaku self harm tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, anak biasanya menunjukkan perubahan perilaku terlebih dahulu sebelum mengalami tantrum, meltdown, maupun menyakiti diri sendiri.

Arif menjelaskan, tanda-tanda awal yang perlu diperhatikan di antaranya perubahan ekspresi wajah. "Dari ekspresi wajah tadinya ceria jadi agak muram. Kemudian tatapan yang mulai tidak fokus, anak tampak gelisah, tangan bergerak-gerak, tidak merespons saat diajak berkomunikasi, di beberapa kasus muncul keringat," ungkap Arif, Minggu 2 Agustus 2026.

Menurutnya, perubahan tersebut menjadi peringatan bagi orang tua maupun pendamping untuk segera mengalihkan aktivitas anak. Ia menyarankan agar anak tidak dipaksa melanjutkan kegiatan yang membuatnya tidak nyaman. Sebagai gantinya, orang tua dapat mengalihkan perhatian anak ke aktivitas lain, sehingga anak tetap belajar tanpa mengalami tekanan yang memicu emosi.

Selain mengenali tanda awal, Arif mengatakan orang tua juga perlu memahami pemicu yang berbeda pada setiap anak. Perilaku self-harm dapat dipicu oleh overstimulasi, seperti suara yang terlalu keras, cahaya yang menyilaukan, keramaian, sentuhan yang tidak disukai, maupun kondisi tertentu yang membuat anak merasa tidak nyaman. Pada kondisi lain, perilaku tersebut juga dapat muncul karena merasa frustrasi ketika keinginannya tidak dapat dipenuhi.

Saat anak mulai menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri, Arif mengimbau orang tua tetap tenang, turut mengontrol emosi, dan tidak terburu-buru menuruti semua keinginan anak hanya agar perilaku tersebut berhenti. "Biarkan saja mereka menangis, yang penting jangan sampai menyakiti diri sendiri. Kita pegang tangannya, kita peluk tubuhnya dan sebagainya karena di sini juga masuk metode pemberian terapi perilaku. Selain membuat anak menjadi lebih tenang, kita juga mengajarkan bahwa segala sesuatu tidak selamanya bisa dia dapatkan." katanya.

Sementara itu, jika perilaku self-harm dipicu oleh meltdown atau overstimulus, jelas Arif, prioritas utama adalah menghindarkan anak dari pemicu dan mengurangi sumber rangsangan sensori.

Arif menambahkan setiap anak memiliki tingkat sensitivitas dan pemicu yang berbeda. Karena itu, orang tua perlu mengenali profil sensorik anak agar dapat menentukan cara penanganan yang tepat. Apabila perilaku self harm terus berulang atau semakin berat, ia menyarankan orang tua segera berkonsultasi dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan penanganan yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....