Dampak Psikologis akibat Trauma Bonding dan Cara Mengatasinya
- 08 Agt 2026 11:51 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Trauma bonding dapat menjadi salah satu kondisi psikologis yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari hubungan yang penuh kekerasan, pelecehan, maupun manipulasi. Ikatan emosional yang terbentuk melalui siklus perlakuan buruk yang berulang, kemudian diselingi perhatian atau kasih sayang, membuat korban merasa sangat bergantung kepada pelaku.
Kondisi tersebut dapat terjadi dalam berbagai bentuk hubungan, termasuk hubungan pacaran maupun pernikahan. Korban kerap terjebak dalam pola hubungan yang menyakitkan, tetapi tetap memiliki harapan bahwa pelaku akan berubah sehingga sulit mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan.
Founder Psikologianak.id sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, mengatakan trauma bonding dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis korban.
“Orang yang mengalami trauma bonding akan mengalami self-esteem atau penurunan harga diri, seperti prasangka, jika tidak dengan dia nanti apakah ada yang mau sama aku. Sehingga korban trauma bonding akan sulit untuk keluar dari hubungan toxic tersebut,” kata Robik saat menjadi narasumber dalam program Teman Cerita di PRO 1 RRI Madiun, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, penurunan harga diri menjadi salah satu dampak yang dapat membuat korban semakin bergantung secara emosional kepada pelaku. Korban dapat merasa dirinya tidak cukup baik, tidak berharga, atau khawatir tidak akan mendapatkan pasangan maupun orang lain yang dapat menerimanya.
Selain penurunan harga diri, trauma bonding juga dapat memicu kecemasan kronis, ketergantungan emosional, kebingungan identitas, rasa bersalah, hingga munculnya harapan palsu terhadap perubahan perilaku pelaku.
Robik menyebut, salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah munculnya rasa takut yang sangat kuat terhadap seseorang atau figur tertentu.
“Tanda yang paling nyata mengalami ketakutan yang amat sangat terhadap seseorang atau seorang figur. Ketakutan yang tidak biasa atau ketakutan parah,” ujarnya.
Meski tidak mudah, Robik mengatakan seseorang tetap memiliki kemungkinan untuk melepaskan diri dari trauma bonding. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari dan menerima bahwa hubungan yang dijalani sudah tidak sehat.
“Menyadari dan menerima bahwa hubungan ini tidak sehat. Mencari support system menjadi langkah awal untuk memutus lingkaran setan tersebut,” katanya.
Dukungan dari keluarga, sahabat, maupun orang-orang yang dipercaya dapat membantu korban mendapatkan perspektif yang lebih objektif mengenai hubungan yang sedang dijalani. Support system juga dapat menjadi tempat bagi korban untuk mendapatkan dukungan ketika mulai berusaha keluar dari hubungan tersebut.
Selain itu, korban perlu berhenti menggantungkan harapan pada perubahan pelaku apabila tidak disertai bukti nyata. Perubahan dalam hubungan tidak cukup hanya berdasarkan janji, tetapi perlu terlihat melalui perilaku yang konsisten.
Korban juga disarankan membangun kembali hubungan dengan keluarga maupun teman yang suportif. Jika memungkinkan dan aman dilakukan, mengurangi kontak dengan pelaku dapat membantu korban memutus pola ketergantungan emosional.
Langkah berikutnya adalah membangun kembali harga diri. Korban perlu menyadari bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh keberadaan maupun perlakuan pasangan.
Apabila merasa kesulitan untuk keluar seorang diri, mencari pendampingan profesional juga dapat menjadi pilihan. Psikolog atau tenaga profesional dapat membantu korban memahami pola hubungan yang dialami, memulihkan kepercayaan diri, serta menyusun langkah yang lebih aman untuk keluar dari hubungan yang toxic.
Dengan mengenali tanda-tanda trauma bonding dan mendapatkan dukungan yang tepat, korban memiliki peluang untuk memutus siklus kekerasan dan membangun kembali kehidupan yang lebih sehat
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....