Burnout Rentan Dialami Perempuan Pekerja akibat Beban Ganda dan Tekanan Kerja

  • 09 Jun 2026 18:44 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Fenomena burnout atau kelelahan berkepanjangan menjadi salah satu persoalan yang semakin banyak dialami pekerja, terutama perempuan yang harus menjalankan berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga emosional dan mental seseorang.

Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, Dra. Fransisca Mudjijanti, M.M., menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan yang muncul akibat stres berkepanjangan yang tidak segera ditangani, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan.

“Burnout adalah kondisi kelelahan dari aspek fisik, emosional, dan mental akibat stres yang berlangsung dalam waktu lama. Ketika stres tidak segera ditangani dan terus berlanjut, hal itu bisa mengakibatkan terjadinya burnout,” ujarnya dalam program PUG dan INKLUSI Pro 1 RRI Madiun

Menurut Fransisca, burnout tidak terjadi karena satu faktor saja. Berbagai aspek dapat menjadi pemicu, terutama bagi perempuan pekerja yang harus menjalankan peran ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab domestik.

“Perempuan pekerja memiliki tanggung jawab sebagai pekerja, sebagai pribadi, sekaligus memiliki tanggung jawab dalam keluarga. Peran ganda inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya burnout,” katanya.

Selain beban peran yang berlapis, tekanan pekerjaan juga menjadi pemicu utama. Target-target yang harus dicapai di tempat kerja sering kali menambah beban psikologis seseorang, terlebih ketika harus diselesaikan bersamaan dengan tanggung jawab lain di luar pekerjaan.

Fransisca menambahkan, burnout juga lebih mudah terjadi ketika seseorang merasa tidak memiliki kendali terhadap pekerjaannya. Kondisi seperti sering menerima tugas mendadak, tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaannya, hingga tidak memiliki keberanian untuk menolak tugas tambahan dapat meningkatkan risiko kelelahan.

“Sering kali seseorang merasa tidak punya ruang untuk mengatakan tidak. Ada rasa takut untuk menolak, padahal jika terus dipaksakan justru bisa menjadi pemicu burnout,” jelasnya.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah kurangnya penghargaan atau pengakuan di lingkungan kerja. Menurutnya, seseorang yang telah bekerja keras tetapi merasa usahanya tidak dihargai akan lebih rentan mengalami kelelahan emosional.

“Ketika kontribusinya dianggap biasa saja, tidak mendapatkan umpan balik positif, dan kesalahan lebih diperhatikan daripada keberhasilannya, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental pekerja dan memperbesar risiko burnout,” tuturnya.

Karena itu, Fransisca mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang sehat, memberikan apresiasi yang layak kepada pekerja, serta membangun komunikasi yang terbuka agar setiap individu memiliki ruang untuk menyampaikan batas kemampuan mereka.

Dengan pengelolaan stres yang baik serta dukungan dari lingkungan kerja dan keluarga, risiko burnout dapat diminimalkan sehingga produktivitas dan kesejahteraan pekerja tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....