Komunitas Lupus Madiun Edukasi Masyarakat tentang Penyakit “Seribu Wajah”
- 21 Jul 2026 12:52 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun — Komunitas Lupus Madiun Griya Yara menggelar edukasi dan sharing motivasi mengenai penyakit autoimun Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Aula Kamariyatun RSU Darmayu, Kota Madiun pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan itu diikuti sekitar 100 peserta dari Madiun dan sejumlah daerah di sekitarnya hingga Solo.
Ketua Komunitas Lupus Madiun Griya Yara, Sri Ani Amd. Keb. mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang lupus sekaligus memperkenalkan komunitas Griya Yara. Peserta kegiatan terdiri atas orang dengan lupus (Odapus), pendamping, anggota komunitas, serta dokter spesialis penyakit dalam dari sejumlah rumah sakit di wilayah Madiun.
“Tujuannya mengenali lupus dan menumbuhkan kepedulian tentang penyakit lupus,” kata Sri Ani disela kegiatan tersebut.
Menurut dia, lupus masih kerap terlambat dikenali karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain. Kondisi itu membuat pasien sering menjalani sejumlah pemeriksaan atau diagnosis sebelum akhirnya diketahui menderita lupus.
Sri Ani mengatakan lupus juga kerap tidak terlihat secara kasatmata. Pasien dapat tampak sehat, meski mengalami proses peradangan di dalam tubuh. Kondisi ini, kata dia, membuat sebagian masyarakat menganggap pasien lupus hanya berpura-pura sakit.
“Penyakit lupus itu orangnya terlihat baik-baik saja, tetapi ada peradangan dalam tubuhnya yang tidak terlihat,” ujarnya.
Edukasi dalam kegiatan itu diisi oleh sejumlah narasumber, di antaranya dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Dr. dr. Arief Nurudhien, Sp-PD-KR, FINASIM, dan dr. Indrayana Sunarso, Sp.PD, K-R.
Sri Ani menjelaskan lupus belum dapat dikatakan sembuh total. Namun, penyakit tersebut dapat dikendalikan melalui pengobatan dan pemantauan dokter spesialis.
Pasien dapat mencapai kondisi remisi, yakni ketika aktivitas penyakit terkendali, termasuk dalam kondisi tertentu tanpa harus mengonsumsi obat. Penentuan kondisi remisi dilakukan oleh dokter yang menangani pasien.
Dia berharap semakin banyak masyarakat mengenali lupus sehingga pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat dan memiliki peluang lebih besar untuk mengendalikan penyakitnya.
Di wilayah eks-Karesidenan Madiun, kata Sri Ani, sekitar 140 orang telah tergabung dalam Komunitas Lupus Madiun Griya Yara. Namun, dia memperkirakan jumlah pasien lupus yang sebenarnya lebih banyak karena masih terdapat keterlambatan diagnosis.
Bendahara Komunitas Lupus Madiun, Komsiati, mengatakan lupus kerap disebut sebagai penyakit “seribu wajah” karena gejalanya dapat menyerupai berbagai penyakit lain. Diagnosis lupus, kata dia, perlu ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan medis lainnya.
Adapun pengobatan lupus disesuaikan dengan kondisi dan keluhan pasien. Selain pengobatan simptomatik, pasien dapat memperoleh steroid, seperti methylprednisolone, untuk mengurangi peradangan. Dokter juga dapat memberikan obat imunosupresan untuk menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh.
Pada pasien lupus, sistem imun mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh sendiri. “Imunitasnya berlebih, tetapi eror. Jadi tidak bisa membedakan mana dirinya sendiri dan mana penyakit yang menyerang tubuh,” kata Komsiati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....