Gen Z Pilih Freelance Kreatif, Ini Kata Psikolog

  • 30 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Dunia kerja di kalangan Generasi Z kini mengalami perubahan yang cukup signifikan. Banyak anak muda mulai memilih jalur freelance di industri kreatif dibanding bekerja secara konvensional di kantor dengan sistem kerja tetap.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa pilihan Gen Z terhadap pekerjaan freelance dipengaruhi oleh karakter generasi yang lebih fleksibel dan mengutamakan kebebasan dalam bekerja.

“Gen Z cenderung ingin memiliki kontrol terhadap waktu, lingkungan kerja, dan cara mereka berkarya. Karena itu, freelance terasa lebih sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujarnya pada Jumat (29/5/2026)

Menurut Andi, industri kreatif seperti desain, fotografi, videografi, konten media sosial, musik, hingga digital marketing menjadi bidang yang banyak diminati karena memberikan ruang ekspresi yang lebih luas.

“Bagi Gen Z, pekerjaan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang passion, identitas diri, dan kepuasan personal,” jelasnya.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan media sosial turut membuka peluang besar bagi generasi muda untuk bekerja secara mandiri tanpa harus terikat sistem kerja formal. Banyak anak muda kini mampu membangun portofolio dan mencari klien melalui platform digital.

Selain faktor fleksibilitas, Gen Z juga dinilai lebih menyukai lingkungan kerja yang tidak terlalu hierarkis. Sistem freelance dianggap memberikan ruang komunikasi yang lebih cair dan tidak terlalu kaku.

Namun demikian, Andi mengingatkan bahwa pekerjaan freelance juga memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi kestabilan emosional dan finansial. Ketidakpastian pendapatan, tekanan deadline, hingga jam kerja yang tidak teratur dapat memicu stres apabila tidak dikelola dengan baik.

“Freelance memang terlihat bebas, tetapi tetap membutuhkan disiplin tinggi dan kemampuan mengatur diri,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat agar tidak terjadi burnout, terutama di industri kreatif yang sangat bergantung pada ide dan energi mental.

“Ketika hobi berubah menjadi pekerjaan, seseorang tetap perlu batas agar tidak kehilangan semangat dan kesehatan mental,” tegas Andi.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....