Gen Z dan Slow Living, Ini Penjelasan Psikolog

  • 22 Mei 2026 12:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Tren slow living semakin banyak diterapkan oleh Generasi Z sebagai respons terhadap tekanan hidup modern yang serba cepat. Gaya hidup ini menjadi pilihan anak muda untuk mencari keseimbangan antara produktivitas, kesehatan mental, dan kualitas hidup.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa slow living merupakan pola hidup yang dijalani secara lebih sadar, tenang, dan tidak terburu-buru mengikuti tuntutan sosial.

“Gen Z mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang bagaimana menikmati proses dan menjaga diri tetap sehat secara mental,” ujarnya pada Jumat 22 Mei 2026.

Menurut Andi, fenomena ini muncul karena banyak generasi muda merasa lelah dengan budaya kompetitif dan tekanan untuk selalu produktif. Paparan media sosial yang terus menampilkan standar kesuksesan tertentu juga membuat sebagian Gen Z mengalami kelelahan emosional.

“Banyak yang merasa harus terus bergerak dan membandingkan diri dengan orang lain. Slow living hadir sebagai bentuk mencari jeda dari tekanan tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, slow living biasanya diterapkan melalui kebiasaan sederhana, seperti mengurangi aktivitas yang tidak perlu, menikmati waktu istirahat, membatasi penggunaan media sosial, hingga lebih fokus pada pengalaman hidup dibanding pengakuan sosial.

Dari sisi psikologis, gaya hidup ini dinilai membantu individu lebih mengenal dirinya sendiri dan mengurangi tingkat stres. Dengan ritme hidup yang lebih teratur, seseorang dapat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan pekerjaan, lingkungan, maupun dirinya sendiri.

“Ketika hidup dijalani dengan lebih sadar, seseorang akan lebih mudah memahami apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar mengikuti tekanan sekitar,” tambah Andi.

Namun demikian, Andi menegaskan bahwa slow living bukan berarti menjadi malas atau tidak memiliki ambisi. Menurutnya, konsep ini lebih menekankan pada kemampuan mengatur ritme hidup agar tetap seimbang dan berkelanjutan.

“Slow living bukan berhenti berkembang, tetapi belajar menjalani hidup dengan lebih sehat dan realistis,” tegasnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....