Mikroplastik: Lebih Berbahaya dari Plastik Biasa
- 12 Apr 2026 12:41 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Masalah sampah plastik masih menjadi perhatian serius di tengah masyarakat. Plastik dikenal sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang. Namun, di balik itu, terdapat ancaman lain yang dinilai lebih berbahaya, yakni mikroplastik. Hal ini disampaikan oleh Dr. W. Linda Yuhanna, dosen biologi UNIPMA, dalam dialog bersama Pro 2 RRI Madiun terkait isu lingkungan.
Menurut Linda, plastik yang terlihat hancur bukan berarti telah terurai sepenuhnya. Proses penghancuran tersebut justru dapat menghasilkan partikel berukuran sangat kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini tidak kasat mata dan memiliki dampak yang lebih kompleks terhadap ekosistem. Kondisi ini membuat mikroplastik sulit dideteksi sekaligus sulit dikendalikan.
“Mikroplastik ini jauh lebih bahaya karena saking kecilnya, dia akan mudah tertelan oleh makhluk hidup, Misalnya kalau kita buang sampah ke sungai, plastiknya bisa hancur menjadi mikroplastik. Justru itu berpotensi masuk ke dalam sistem pencernaannya ikan, bisa terserap di akar-akar tumbuhan.” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa ukuran mikroplastik memungkinkan partikel tersebut masuk ke dalam rantai makanan. Akibatnya, berbagai organisme hidup berpotensi terpapar tanpa disadari.
Mikroplastik dapat berasal dari sampah plastik yang dibuang sembarangan, misalnya ke sungai. Plastik yang terurai di perairan akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan menyebar luas. Ikan dan organisme air lainnya berisiko menelan partikel tersebut. Hal ini kemudian berpotensi berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsi hasil perairan.
Tidak hanya pada hewan, mikroplastik juga dapat terserap oleh tumbuhan. Partikel kecil ini dapat masuk melalui akar dan terakumulasi di dalam jaringan tanaman. Selain itu, air minum yang tidak bersih juga berpotensi mengandung mikroplastik. Kondisi ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik bisa terjadi melalui berbagai jalur.
“Bahkan kalau kita minum air yang tidak bersih itu juga berpotensi terkontaminasi mikroplastik,” tambah Linda. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah plastik. Upaya pengurangan plastik tidak hanya fokus pada limbah besar, tetapi juga pada dampak jangka panjang dari mikroplastik.
Linda menegaskan bahwa arah penelitian dan konservasi lingkungan kini mulai bergeser. Tidak hanya menangani sampah plastik yang terlihat, tetapi juga mengurangi potensi terbentuknya mikroplastik. Edukasi dan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam mengatasi permasalahan ini. Dengan langkah bersama, dampak mikroplastik diharapkan dapat diminimalkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....