Mengapa Gen Z Mudah Burnout di Awal Karier? Ini Penjelasan Psikolog
- 10 Apr 2026 18:46 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena burnout atau kelelahan emosional di awal karier kini semakin banyak dialami oleh Generasi Z. Kondisi ini menjadi perhatian, mengingat usia produktif yang seharusnya menjadi fase eksplorasi justru diwarnai tekanan mental yang tinggi.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat stres berkepanjangan, terutama dalam konteks pekerjaan.
“Gen Z cenderung lebih cepat mengalami burnout karena mereka masuk ke dunia kerja dengan ekspektasi yang tinggi, tetapi sering kali tidak diimbangi dengan realita yang mereka hadapi,” ujarnya, kemarin.
Menurut Andi, salah satu faktor utama adalah adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Banyak Gen Z yang menginginkan pekerjaan yang bermakna, fleksibel, serta memiliki work-life balance, namun di lapangan justru dihadapkan pada tekanan target, jam kerja panjang, dan lingkungan kerja yang kurang suportif.
Selain itu, faktor psikologis internal juga berperan. Gen Z dikenal memiliki tingkat kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi, tetapi di sisi lain juga lebih rentan terhadap kecemasan dan overthinking. “Mereka cenderung memikirkan banyak hal sekaligus, mulai dari karier, pencapaian, hingga validasi sosial, sehingga lebih cepat merasa lelah secara mental,” jelasnya.
Paparan media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Standar kesuksesan yang ditampilkan di platform digital sering kali tidak realistis dan memicu perasaan tertinggal. Hal ini membuat individu merasa harus terus produktif tanpa jeda.
“Perbandingan sosial ini yang sering tidak disadari. Mereka melihat orang lain ‘terlihat sukses’ di usia muda, lalu merasa dirinya kurang, padahal setiap orang punya proses yang berbeda,” tambah Andi.
Faktor lingkungan kerja juga menjadi pemicu. Minimnya apresiasi, komunikasi yang kurang sehat, hingga budaya kerja yang tidak seimbang dapat mempercepat munculnya burnout. Terlebih bagi Gen Z yang cenderung mengutamakan kenyamanan psikologis dalam bekerja.
Meski demikian, Andi menegaskan bahwa burnout bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang membutuhkan jeda dan evaluasi. Ia menyarankan agar individu mulai mengenali batas diri, mengatur ekspektasi, serta membangun pola kerja yang lebih sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....