Penyebab Holiday Blues Menurut Psikolog
- 25 Mar 2026 09:42 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena holiday blues kerap muncul di tengah momen liburan yang seharusnya identik dengan kebahagiaan. Namun, tidak sedikit orang terutama generasi muda justru merasakan kesedihan, kecemasan, hingga tekanan emosional selama periode tersebut.
Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa holiday blues merupakan kondisi emosional yang dipicu oleh berbagai faktor psikologis dan sosial, bukan sekadar perasaan biasa.
“Liburan seringkali membawa ekspektasi tinggi, sementara realita tidak selalu sesuai harapan,” ujarnya pada Selasa, 24 Maret 2026.
Salah satu penyebab utama adalah tekanan sosial. Menurut Andi, momen liburan seperti Lebaran sering diiringi pertanyaan personal, mulai dari pekerjaan hingga hubungan, yang dapat memicu rasa tidak nyaman. Hal ini membuat individu merasa dibandingkan dengan orang lain.
Selain itu, faktor kesepian juga menjadi pemicu signifikan. Tidak semua orang memiliki kesempatan berkumpul dengan keluarga atau orang terdekat. “Bagi sebagian orang, liburan justru mempertegas rasa kehilangan atau keterasingan,” tambahnya.
Perbandingan sosial di media sosial juga berperan besar. Melihat unggahan orang lain yang tampak bahagia dapat memicu perasaan tidak cukup atau tertinggal. Ini sering terjadi pada generasi Z yang sangat aktif di dunia digital.
Faktor kelelahan mental juga tidak bisa diabaikan. Setelah menjalani rutinitas panjang, tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat. Namun, aktivitas liburan yang padat justru bisa menambah beban psikologis.
Masalah finansial juga menjadi penyebab lain. Kebutuhan pengeluaran selama liburan, seperti mudik, hadiah, hingga gaya hidup, dapat menimbulkan stres tersendiri, terutama bagi anak muda yang belum stabil secara ekonomi.
Perubahan rutinitas harian turut memengaruhi kondisi emosional. Ketidakteraturan pola tidur, makan, dan aktivitas bisa berdampak pada kestabilan mood seseorang.
Sebagai penutup, Andi Cahyadi mengingatkan bahwa penting untuk mengenali batas diri dan tidak memaksakan kebahagiaan. “Liburan seharusnya menjadi momen untuk recharge, bukan ajang pembuktian,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....