Perbedaan Percaya Diri dan Narsistik pada Gen Z Menurut Psikolog

  • 22 Mar 2026 22:10 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun: Di tengah berkembangnya budaya ekspresi diri di media sosial, istilah percaya diri dan narsistik kerap digunakan secara bergantian oleh generasi muda. Padahal secara psikologis, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar, terutama jika dikaitkan dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD).

Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa percaya diri merupakan sikap positif yang mencerminkan keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya. Individu yang percaya diri umumnya mampu menerima kelebihan dan kekurangan, serta tetap menghargai orang lain.

“Percaya diri itu sehat, karena membuat seseorang berani berkembang dan mencoba hal baru. Tapi tetap ada keseimbangan dengan empati,” ujarnya pada selasa, 17 Maret 2026.

Sebaliknya, perilaku narsistik cenderung ditandai dengan kebutuhan berlebihan untuk diakui, merasa diri paling unggul, serta kurang memiliki empati terhadap orang lain. Dalam kondisi ekstrem, hal ini dapat mengarah pada gangguan kepribadian seperti NPD.

Menurut Andi, salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada cara seseorang merespons kritik. Individu yang percaya diri mampu menerima masukan sebagai bahan evaluasi, sedangkan individu dengan kecenderungan narsistik cenderung menolak kritik dan merasa dirinya selalu benar.

Selain itu, orang yang percaya diri tidak selalu membutuhkan validasi dari lingkungan, sementara perilaku narsistik sangat bergantung pada pengakuan eksternal, seperti pujian atau perhatian.

“Kalau percaya diri, seseorang tetap nyaman meskipun tidak selalu dipuji. Tapi kalau narsistik, ada dorongan kuat untuk terus mendapatkan pengakuan dari orang lain,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu memahami batas antara ekspresi diri yang sehat dan kecenderungan yang berlebihan. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

Andi juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah melabeli seseorang sebagai narsistik tanpa pemahaman yang tepat, karena diagnosis gangguan kepribadian memerlukan penilaian profesional.

“Yang perlu dibangun adalah keseimbangan antara kepercayaan diri, kesadaran diri, dan empati. Itu kunci hubungan sosial yang sehat,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....