Pengertian Toxic Masculinity di Kalangan Gen Z

  • 28 Feb 2026 16:47 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Istilah toxic masculinity semakin sering dibahas di ruang publik, terutama di kalangan Generasi Z. Fenomena ini merujuk pada konstruksi sosial tentang maskulinitas yang menekankan bahwa laki-laki harus selalu kuat, tidak boleh menangis, dominan, dan menekan emosi. Jika dipahami secara keliru, pola pikir tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental maupun relasi sosial anak muda.

Psikolog Andi Cahyadi menjelaskan bahwa toxic masculinity bukan berarti sifat maskulin itu buruk. Maskulin bagian dari identitas.

“Maskulinitas pada dasarnya adalah bagian dari identitas. Yang menjadi masalah adalah ketika standar maskulinitas dipaksakan secara kaku dan ekstrem, sehingga laki-laki merasa tidak boleh menunjukkan emosi atau kerentanan,” ujarnya saat dihubungi RRI, rabu, 25 Februari 2026.

Menurut Andi, Generasi Z tumbuh di era digital yang terbuka dan ekspresif. Namun di sisi lain, masih ada tekanan sosial yang menuntut laki-laki tampil kuat dan tangguh tanpa celah.

“Banyak remaja laki-laki merasa harus menyembunyikan kesedihan atau kecemasan karena takut dianggap lemah. Padahal, mengekspresikan emosi adalah hal yang sehat,” jelasnya.

Ia menambahkan, pola asuh dan lingkungan turut membentuk cara pandang tersebut. Sejak kecil, sebagian anak laki-laki sering mendapat pesan seperti ‘jangan cengeng’ atau ‘laki-laki tidak boleh menangis’. Pesan yang terus diulang dapat membentuk keyakinan bahwa menunjukkan perasaan adalah bentuk kegagalan.

Dampaknya, tidak sedikit remaja laki-laki yang kesulitan mengelola emosi. Tekanan untuk selalu terlihat kuat dapat memicu stres, ledakan amarah, bahkan perilaku agresif. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi yang tidak terdeteksi.

Selain berdampak pada individu, toxic masculinity juga memengaruhi pola relasi. Standar maskulinitas yang menekankan dominasi dapat memicu hubungan yang tidak sehat, baik dalam pertemanan maupun percintaan.

“Hubungan yang sehat justru dibangun atas dasar saling menghargai dan komunikasi yang terbuka,” tegas Andi.

Namun demikian, Andi melihat adanya perubahan positif di kalangan Gen Z. Kesadaran tentang kesehatan mental semakin meningkat, dan semakin banyak anak muda yang berani berbicara tentang perasaan serta mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....