Sulit Membuang Barang? Bisa Jadi Itu Hoarding Disorder

  • 28 Feb 2026 03:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kebiasaan menyimpan barang sering kali dianggap hal biasa. Bahkan banyak orang merasa wajar jika rumah dipenuhi benda-benda lama yang sayang dibuang. Namun, menurut Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog dalam program Teman Cerita RRI Pro 1 Madiun, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi gangguan mental jika tidak terkontrol. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang terus menimbun barang dan merasa sangat sulit untuk membuangnya, kondisi tersebut bisa mengarah pada hoarding disorder.

“Ketika kita memiliki indikasi perilaku yang mengarah ke menimbun barang, nge-keep barang, terus akhirnya tidak mau membuang barang tersebut, itu bukan lagi sekadar kenangan manis. Bisa jadi malah mengarah ke beban mental,” jelasnya.

Hoarding disorder berbeda dengan sekadar hobi mengoleksi barang. Robik menegaskan bahwa gangguan ini ditandai dengan kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan yang sudah tidak memiliki nilai atau fungsi. “Kalau hoarding disorder itu sudah mengarah ke gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan yang ekstrem untuk membuang barang. Walaupun barangnya itu enggak ada nilainya sama sekali,” ujarnya.

Perbedaan lainnya terletak pada respons emosional. Jika kolektor merasa bangga dan mampu menata koleksinya dengan rapi, penderita hoarding disorder justru mengalami kecemasan berlebihan saat barangnya hendak dibuang. “Ketika barang itu dibuang, itu menimbulkan kecemasan yang berlebihan,” tambahnya.

Menurut Robik, penyebab hoarding disorder dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetika, pola asuh, hingga pengalaman traumatis. Trauma kehilangan dapat memunculkan ketakutan berlebihan untuk melepaskan barang karena khawatir suatu saat akan dibutuhkan. Pola pikir seperti “gimana nanti kalau misalnya ini dibutuhkan?” kerap berulang dan memperkuat dorongan untuk terus menyimpan barang.

Dampaknya tidak hanya terlihat dari rumah yang berantakan, tetapi juga pada kesehatan mental dan relasi sosial. Robik menyebut bahwa hubungan sosial dapat terganggu karena individu merasa malu dan menarik diri dari lingkungan. Lingkungan yang penuh tumpukan barang juga dapat meningkatkan stres dan mengganggu produktivitas. Pada kondisi tertentu, terutama pada usia lanjut, penumpukan barang bahkan dapat membahayakan keselamatan fisik.

Ia juga menyoroti pengaruh gaya hidup konsumtif di era digital. Kemudahan belanja online, diskon, dan promosi sering kali mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. “Budaya konsumtif ini membuat gejala atau kerentanan ke arah hoarding disorder menjadi semakin besar,” ungkapnya

Pada akhirnya, membedakan antara kebiasaan menyimpan barang dan hoarding disorder terletak pada tujuan serta respons emosionalnya. Jika barang disimpan dengan alasan jelas dan tidak menimbulkan kecemasan saat dilepaskan, hal tersebut masih tergolong wajar. Namun, jika membuang barang memicu kecemasan berlebihan dan mengganggu fungsi hidup sehari-hari, kondisi itu patut diwaspadai. (IMR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....