Dokter Himbau Ortu Tak Panik Jika Anak Kejang
- 31 Jan 2026 15:28 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kejang demam pada anak masih menjadi momok yang menimbulkan kepanikan bagi banyak orang tua. Kondisi ini dibahas secara khusus dalam program Dialog AE Raya Menyapa, Senin 19 Januari 2026 bersama narasumber Dr. Amelia Shihah, Sp.A, dokter spesialis anak dari RS Paru Manguharjo, Jawa Timur,
Dr. Amelia menjelaskan bahwa kejang demam adalah bangkitan kejang yang disertai demam, bukan kejang tanpa sebab. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. “Jika tidak ada demam, maka itu bukan kejang demam,” tegasnya. Menurutnya, kejang demam terjadi akibat suhu tubuh yang meningkat tajam, biasanya mencapai 39–40 derajat Celsius, sehingga memicu impuls listrik berlebihan di otak. Penyebab demam bisa berasal dari infeksi virus maupun bakteri, dengan virus sebagai penyebab yang paling sering.
Dr. Amelia juga menekankan pentingnya membedakan kejang demam dengan epilepsi. Epilepsi atau ayan terjadi tanpa disertai demam dan berkaitan dengan gangguan khusus di otak. Sementara pada kejang demam, anak biasanya kembali sadar dengan baik setelah kejang berhenti dan tidak meninggalkan gejala sisa. “Kalau setelah kejang anak sadar, bisa kontak mata, bisa menangis atau merespons orang tua, itu ciri khas kejang demam,” jelasnya.
Beberapa tanda kejang demam yang perlu diwaspadai antara lain: Kejang disertai demam tinggi, mata mendelik ke atas, mulut berbusa akibat air liur tidak tertelan, detak jantung meningkat, bisa disertai henti napas sesaat. Dr. Amelia juga mengingatkan agar orang tua tidak keliru membedakan menggigil akibat demam tinggi dengan kejang. Menggigil biasanya masih disertai kontak mata dan respons anak.
| Baca juga: Waspada TBC pada Anak, Kenali Gejalanya |
Langkah pertolongan pertama, saat anak mengalami kejang demam, orang tua diimbau untuk meletakkan anak di alas datar dan keras, memiringkan tubuh anak untuk mencegah muntahan masuk ke saluran napas, melonggarkan pakaian, memberikan kompres hangat di lipatan tubuh, tidak memasukkan apa pun ke dalam mulut anak, termasuk sendok, kopi, atau cairan lain. “Memberi kopi atau gula adalah mitos dan sangat berbahaya karena bisa masuk ke saluran napas,” tegas Dr. Amelia.
Pencegahan utama kejang demam adalah mengendalikan demam, menjaga daya tahan tubuh anak dengan nutrisi seimbang, cairan cukup, serta melengkapi imunisasi sesuai jadwal. “Selama orang tua memahami kondisi ini dan tahu langkah penanganan awal, kejang demam tidak perlu ditakuti secara berlebihan,” pungkas Dr. Amelia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....