KBRN, Madiun : Menekuni bisnis usaha kerupuk sejak 2010, Syamsiati yang saat itu aktif sebagai PPKB di desanya bermaksud memberikan kesibukan pada suaminya yang tidak ada pekerjaan tetap. Ide menjadi pengusaha kerupuk ini muncul ketika wanita yang tinggal di Desa Sareng RT 9 RW 2 Geger membeli kerupuk di toko tapi rasanya tidak sesuai ekspektasi
"Kok rasanya tidak begitu enak. Saya amat-amati kalau bikin gini aja saya juga bisa ."kenangnya dengan penuh percaya diri saat berbicang di Mozaik Indonesia UMUKM Pro 1 RRI Madiun, Senin (17/2/2025).
Menurut pengakuannya, Syamsiati belajar membuat kerupuik secara otodidak dan memang berniat untuk dijual untuk menambah penghasilan keluarga.. Masukan atau kritikan dari teman yang sekaligus menjadi konsumennya, semuanya diterima dengan lapang dada dan penuh kesabaran.
Awalnya Syansiati hanya membuat kerupuk sebanyak 2 kg bahan baku dari tepung tapioka dan dan tepung terigu serta bumbu.
Tanpa rasa malu Syamsiati menawarkan ke toko-toko di sekitar tempat tinggalnya.
Prinsipnya selagi halal dia akan lakukan .
| Baca juga: Nahanoms Jadi Jajanan Favorit di Madiun |
2012 Syamsiati sudah bisa membeli mesin pemotong kerupuk meski yang kapasitas kecil. Sebelumnya dia memotong kerupuknya secara manual.
Usahanya semakin berkembang, setelah sempat menerima pembinaan dari Dinas Perikanan Kabupaten Madiun. Apalagi 2016 Saymsiati menerima dana hibah bantuan dari Dinas Perikanan Kabupaten Madiun.
Sekarang Syamsiati bisa memproduksi 50 sampai 60 kg kerupuk per harinya dibantu dengan 2 karyawan yang masih tetangganya sendiri di rumahnya di Desa Sareng yang sekaligus menjadi tempat produksinya.
Untuk memenuhi permintaan yang yang semakin banyak, Syamsiati mengembangkan cabang usahanya , yaitu di Desa Kepet Kec. Dagangan Kabupaten Madiun
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....