Strategi Bisnis dari Dapur dan Bertahan 10 Tahun
- 19 Mar 2026 23:31 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Berawal dari hobi memasak dan dapur sederhana, Swasty Purworini berhasil membangun bisnis bakery Ratu Roti Madiun yang kini mampu bertahan lebih dari satu dekade.
Di tengah persaingan ketat industri kuliner, Swasty menekankan strategi pemasaran sederhana namun efektif, serta konsistensi kualitas sebagai kunci utama keberlanjutan usaha.
Swasty mengungkapkan, bisnisnya dimulai sekitar 10 tahun lalu, saat ia mencoba membuat kue untuk keluarga dan tetangga. Respons positif dari lingkungan terdekat menjadi titik awal berkembangnya usaha tersebut.
“Awalnya hanya untuk saudara dan tetangga, tapi ternyata responnya bagus. Dari situ saya mulai berani jualan,” ujarnya.
Salah satu strategi pemasaran paling efektif yang dilakukan Swasty adalah memanfaatkan media sosial sejak awal. Ia aktif mempromosikan produknya melalui grup Facebook kuliner lokal di Madiun. Selain itu, Swasty rutin mengunggah produk setiap hari untuk menjaga awareness pelanggan. Strategi ini membuat konsumen mengetahui variasi produk yang ditawarkan, tidak hanya satu jenis.
“Dulu booming dari Facebook, gabung di grup kuliner. Dari situ pesanan mulai banyak, bahkan sebelum matang sudah ada yang pesan,” jelasnya.
Tak hanya digital, promosi dari mulut ke mulut juga menjadi faktor penting. Ia menilai kepuasan pelanggan adalah alat marketing paling kuat.
“Kalau enak, ibu-ibu pasti cerita ke yang lain. Itu promosi paling cepat,” katanya.
Dalam menentukan positioning pasar, Swasty memilih segmen kelas menengah dengan harga yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Ia menawarkan produk dengan harga mulai dari Rp6.000 hingga puluhan ribu rupiah, namun tetap menggunakan bahan berkualitas. Strategi ini terbukti efektif, terutama saat momen seperti Ramadan, di mana produknya banyak dibeli untuk takjil dan hampers.
“Saya ingin orang tetap bisa makan enak meskipun kondisi ekonomi sulit. Jadi harga harus masuk, tapi rasa tetap dijaga,” ungkapnya.
Perjalanan bisnis Swasty tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami kerugian saat menjual roti basah yang hanya bertahan satu hari.
“Dulu sempat rugi karena roti cepat basi. Akhirnya saya pindah ke bolu yang daya tahannya lebih lama,” jelasnya.
Keputusan tersebut menjadi titik balik bisnisnya. Produk bolu dinilai lebih fleksibel untuk distribusi dan mengurangi risiko kerugian. Selain itu, ia juga menerapkan efisiensi produksi, termasuk penggunaan desain loyang yang hemat bahan namun tetap menarik secara visual.
Salah satu tantangan terbesar dalam bisnis bakery adalah fluktuasi harga bahan baku, seperti telur dan cokelat. Namun Swasty memilih untuk tidak mengubah kualitas produknya. Ia lebih memilih menyesuaikan strategi keuntungan di waktu tertentu dibanding menurunkan kualitas.
| Baca juga: Catat Tanggalnya! ADMR Siap Bagi Dividen |
“Kalau rasa berubah, pelanggan bisa lari. Jadi kualitas harus dijaga, meskipun harga bahan naik,” tegasnya.
Menurut Swasty, tantangan terbesar dalam bisnis justru datang dari diri sendiri, seperti rasa malas dan kurang percaya diri saat memulai. Ia juga menekankan pentingnya terus belajar, baik dari media sosial maupun komunitas UMKM.
“Yang paling sulit itu melawan diri sendiri. Dulu juga malu menawarkan produk. Sekarang banyak ilmu gratis di Instagram dan YouTube. Kita harus terus belajar dan jangan cepat puas,” tambahnya.
Kini, Ratu Roti Madiun mampu menjual hingga ribuan produk dalam waktu singkat, terutama saat momen tertentu. Bahkan dalam dua bulan terakhir, salah satu produknya tembus lebih dari 1.000 penjualan. Bagi Swasty, pencapaian terbesar bukan hanya keuntungan, tetapi juga kepercayaan pelanggan.
“Yang bikin bahagia itu ketika pelanggan repeat order dan bilang anaknya suka,” katanya.
Dengan strategi sederhana, yaitu memahami pasar, menjaga kualitas, dan adaptif terhadap perubahan, Swasty membuktikan bahwa bisnis rumahan pun bisa bertahan lama dan terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....