Lonjakan Persediaan RMKE di Tengah Lesu Pendapatan
- 19 Jan 2026 10:26 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - PT RMK Energy Tbk (RMKE), pemain utama dalam infrastruktur logistik batubara di Sumatera Selatan, menghadapi pengawasan ketat dari regulator bursa terkait akumulasi persediaan yang signifikan di tengah penurunan pendapatan perusahaan. Dalam penjelasan resminya kepada Bursa Efek Indonesia, manajemen mengungkapkan bahwa nilai persediaan perusahaan membengkak lebih dari tiga kali lipat dalam sembilan bulan pertama tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, total persediaan RMKE melonjak menjadi Rp105,6 miliar, naik drastis dari posisi akhir tahun 2024 yang hanya sebesar Rp32,7 miliar. Peningkatan ini terjadi secara kontras dengan realitas pendapatan yang justru merosot dari Rp1,75 triliun menjadi Rp1,12 triliun pada periode yang sama.
Baca juga: Ini Dampak Bencana Sumatra Bagi Asuransi Ramayana
| Baca juga: DMAS Bukukan Prapenjualan Rp1,6 Triliun |
Lonjakan aset lancar ini didominasi oleh komoditas batubara yang belum teruangkan. Rinciannya adalah sebagai berikut:
- Batubara: Nilai persediaan batubara meroket dari Rp10,8 miliar pada Desember 2024 menjadi Rp76,6 miliar pada September 2025.
- Suku Cadang: Persediaan suku cadang untuk mendukung operasional alat berat dan infrastruktur juga naik menjadi Rp29 miliar dari sebelumnya Rp21,9 miliar.
Manajemen berargumen bahwa penumpukan ini bukan merupakan indikasi inefisiensi permanen, melainkan masalah timing pengakuan pendapatan. Perusahaan menjelaskan bahwa terdapat beberapa kontrak perdagangan (trading) batubara yang baru terselesaikan pada kuartal keempat 2025. Akibatnya, arus kas keluar untuk pembelian batubara telah terjadi di kuartal ketiga, namun arus kas masuk dari penjualan baru terealisasi di periode berikutnya.
Selain persediaan fisik, RMKE juga mencatatkan kenaikan tajam pada pos uang muka. Total uang muka jangka pendek melonjak menjadi Rp371,7 miliar, naik dari Rp170,9 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Lonjakan terbesar terjadi pada uang muka kontraktor yang mencapai Rp186,6 miliar dan uang muka pembelian batubara sebesar Rp129,8 miliar.
Baca juga: Ini Alasan Persediaan Produk PAN Brothers Menumpuk
Keputusan manajemen untuk tetap agresif menyetor uang muka di tengah kondisi kas operasional yang defisit sebesar Rp65 miliar memicu tanda tanya. Namun, manajemen memberikan justifikasi strategis:
- Modernisasi Jalan Hauling: Uang muka kontraktor difokuskan untuk penerapan lapisan chipseal pada jalan angkut guna meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang.
- Kepastian Pasokan: Uang muka pembelian batubara dilakukan untuk menjamin ketersediaan volume yang akan dialirkan melalui stasiun muat dan pelabuhan milik perseroan.
Meskipun likuiditas sempat tertekan hingga memerlukan fasilitas cerukan (overdraft) untuk menjaga operasional, manajemen RMKE tetap optimis bahwa normalisasi volume penjualan di awal tahun 2026 akan mengubah tumpukan persediaan ini menjadi arus kas masuk yang kuat.
Disclaimer: Bukan ajakan jual/beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....