Ini Alasan Persediaan Produk PAN Brothers Menumpuk
- 19 Des 2025 08:44 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: PT Pan Brothers Tbk (PBRX), produsen garmen berorientasi ekspor terbesar di Indonesia, kini tengah bergulat dengan tumpukan persediaan yang signifikan di tengah upaya pemulihan pasca-restrukturisasi utang. Dalam acara Public Expose tahunan yang digelar secara virtual pada Rabu (17/12), manajemen perusahaan memaparkan alasan di balik membengkaknya aset lancar tersebut di hadapan para investor dan analis.
Menjawab pertanyaan kritis dari pemegang saham mengenai besarnya pencadangan persediaan dalam laporan keuangan, manajemen PBRX mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan "warisan" dari dinamika pasar selama masa pandemi dan dampak psikologis dari proses hukum perusahaan yang baru saja usai.
Baca juga: Strategi Campina Menghadapi Chainstore Dari Produk Asing
Direksi Perseroan menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penumpukan tersebut adalah sisa produksi Alat Pelindung Diri (APD). Selama periode puncak COVID-19, perusahaan secara masif mengalihkan kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan medis global. Namun, seiring meredanya pandemi, permintaan terhadap produk tersebut anjlok drastis, menyisakan stok yang tidak sepenuhnya terserap pasar.
"Stok APD kemungkinan besar akan di-write off (dihapusbukukan) mengingat keterbatasan permintaan saat ini," ungkap manajemen dalam sesi tanya jawab tersebut. Selain APD, tumpukan stok juga mencakup sisa bahan baku dan sampel produksi. Hal ini dipicu oleh penurunan pesanan yang cukup tajam akibat ketidakpastian yang menyelimuti perusahaan selama proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
Kondisi operasional PBRX pada tahun 2025 memang diakui penuh tantangan. Selain faktor eksternal seperti ketidakpastian politik global, perusahaan juga menghadapi kendala dukungan perbankan. Penjualan hingga triwulan ketiga 2025 tercatat sebesar US$202,3 juta, mengalami penurunan dibanding periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya.
Baca juga: Strategi Campina Menjaga Margin di Tengah Tekanan Ekonomi
Meski demikian, manajemen menegaskan tidak akan mengambil langkah agresif seperti pembagian dividen atau aksi korporasi tambahan dalam waktu dekat. Fokus utama saat ini dialihkan sepenuhnya untuk memperbaiki arus kas internal dan memperkuat modal kerja.
Strategi efisiensi kini menjadi tumpuan. Alih-alih melakukan ekspansi fisik, PBRX memilih untuk memperkuat digitalisasi dan otomatisasi untuk meningkatkan kapasitas serta akurasi produksi. Dengan kenaikan peringkat dari Fitch Indonesia menjadi B- pada November 2025, manajemen optimis bahwa stabilitas operasional akan tercapai pada tahun 2026, yang diproyeksikan menjadi titik balik performa finansial perseroan.
Disclaimer: Bukan ajakan jual/beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....