Alasan Laba ROTI Terjun 45% di Kuartal III
- 04 Des 2025 09:30 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI), produsen roti kemasan populer merek Sari Roti, menghadapi tekanan signifikan terhadap profitabilitasnya, dengan laporan laba bersih terjun 45% pada kuartal ketiga tahun 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disorot dalam Laporan Pelaksanaan Paparan Publik (Public Expose) perusahaan, di mana manajemen ROTI memberikan penjelasan rinci mengenai faktor-faktor yang menghambat kinerja keuangan mereka.
Seorang peserta Public Expose dari kalangan investor ritel, Adam Wicaksono, secara langsung mempertanyakan kepada manajemen ROTI, "Apa yang menyebabkan laba ROTI pada kuartal 3 2025 hanya Rp136,7 miliar turun 45% jika dibandingkan tahun lalu?". Pertanyaan ini menyoroti kekhawatiran pasar atas kondisi perusahaan di tengah tantangan makroekonomi domestik.
Baca juga: Ini Strategi Pendanaan Ekspansi RATU di Masa Depan
Menanggapi pertanyaan tersebut, perwakilan manajemen Perseroan mengakui bahwa pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025, Pendapatan Perseroan turun sekitar 8%, yang kemudian berimbas pada penurunan Laba Bersih sekitar 45%. Penjelasan kunci yang disampaikan manajemen adalah bahwa kinerja penjualan pascapandemi menghadapi tantangan yang sangat luar biasa.
"Sangat dipahami bahwa pascapandemi, kinerja penjualan menghadapi tantangan yang sangat luar biasa yaitu pelemahan daya beli konsumen," ungkap manajemen ROTI.
Pengakuan ini menegaskan bahwa faktor eksternal berupa melemahnya daya beli masyarakat menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan ROTI. Sebagai produsen barang konsumsi harian (Fast-Moving Consumer Goods atau FMCG), kinerja ROTI sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi rumah tangga. Ketika daya beli melemah, konsumen cenderung menahan atau mengurangi pengeluaran untuk produk non-esensial atau beralih ke merek yang lebih terjangkau.
Meskipun menghadapi penurunan yang tajam, manajemen ROTI menyatakan komitmen untuk terus berupaya memperbaiki kinerja setiap kuartal. Perusahaan melihat adanya momentum pertumbuhan per kuartal yang diharapkan dapat terus meningkat, baik dari segi Pendapatan, Laba Bersih, maupun EBITDA.
Baca juga: Masih Rugi Harga Saham Naik, Manajemen AYAM Menjawab
Optimisme ini didasarkan pada data kuartalan yang menunjukkan kenaikan penjualan secara bertahap: Rp860 miliar di kuartal I 2025, Rp911 miliar di kuartal II 2025, dan Rp971 miliar di kuartal III 2025. Momentum ini diharapkan dapat berlanjut ke kuartal IV 2025 dan sepanjang tahun 2026. Keyakinan ini juga diperkuat oleh adanya momentum belanja musim liburan akhir tahun dan strategi pemerintah untuk menstimulus konsumsi masyarakat, termasuk alokasi paket Bantuan Langsung Tunai (BLT) sekitar Rp46,2 triliun di kuartal IV 2025.
Untuk jangka panjang, ROTI akan mengandalkan inisiatif "BEYOND Bread". Strategi ini melibatkan inovasi produk baru seperti kue (Sari Kue), roti, Sari Choco, dan pengembangan segmen Bisnis-ke-Bisnis (B2B) melalui Indosari Food Solution. Selain itu, Perseroan juga mendorong pertumbuhan melalui saluran distribusi premium seperti Javasari, yang saat ini sudah memiliki tiga outlet di Jakarta.
Baca juga: Griya Idola IPO? Ini Jawaban Manajemen BRPT
Manajemen optimis dapat mempertahankan tingkat pertumbuhan jangka panjang, mengingat Compound Annual Growth Rate (CAGR) ROTI selama 15 tahun terakhir mampu dipertahankan pada level 14,2%. Dengan fokus pada peningkatan produktivitas dari 15 pabrik yang sudah beroperasi dan peningkatan kinerja penjualan, ROTI berharap dapat membalikkan tren penurunan laba yang terjadi di kuartal III 2025.
Disclaimer: bukan ajakan jual/beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....