Ini Alasan SBMA Mengalami Penurunan Penjualan di Q3

  • 13 Nov 2025 14:35 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA) menjelaskan penyebab turunnya penjualan pada kuartal III 2025 dalam sesi tanya jawab Public Expose yang digelar di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, 10 November 2025. Dalam kesempatan itu, investor bernama Salahudin menanyakan mengapa penjualan SBMA tidak meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam lampiran materi hasil public expose yang diunggah di laman idx.co.id, Manajemen SBMA menegaskan bahwa perlambatan penjualan bukan disebabkan oleh hilangnya pelanggan, melainkan akibat melambatnya permintaan dari dua sektor utama: pertambangan dan konstruksi. Kedua sektor tersebut mencatat volume pembelian yang lebih rendah dibanding tahun 2024, sehingga berdampak langsung pada kinerja penjualan kuartal berjalan.

“Penjualan di Kuartal III 2025 tidak setinggi tahun lalu karena permintaan dari beberapa sektor utama bergerak lebih pelan daripada perkiraan,” jelas manajemen. Mereka menambahkan, “Situasi ini bersifat sementara dan masih dalam batas wajar untuk industri kami.”

Baca juga: Langkah ANJT Menangani Partenokarpi di Kelapa Sawit

Selain faktor permintaan, SBMA juga menghadapi kenaikan biaya operasional di industri gas, terutama dari sisi energi dan logistik. Perusahaan memilih menjaga keseimbangan antara harga jual dan margin laba, yang menyebabkan sebagian transaksi berjalan lebih bertahap.

Meskipun begitu, manajemen tetap optimistis terhadap prospek akhir tahun. Permintaan di kuartal IV disebut mulai menunjukkan tanda perbaikan, didukung penguatan hubungan dengan pelanggan utama di Kalimantan dan wilayah pertumbuhan industri lainnya.

Baca juga: https://rri.co.id/madiun/bisnis/1957859/laba-bersih-alfamart-turun-tipis-di-kuartal-iii

SBMA, yang memproduksi gas industri seperti asetilena, oksigen, nitrogen, dan argon, mencatat pendapatan Rp102,75 miliar hingga kuartal III 2025, naik 6,35% dibanding periode sama tahun sebelumnya, dengan laba bersih mencapai Rp4,57 miliar. Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan 10–15% pada 2026 melalui perluasan jaringan distribusi dan diversifikasi pelanggan ke sektor kesehatan dan laboratorium.

Bagi investor, penjelasan SBMA menunjukkan bahwa tekanan pada penjualan kuartal III lebih disebabkan oleh dinamika musiman dan kondisi eksternal, bukan pelemahan fundamental. Dengan upaya efisiensi biaya dan implementasi teknologi pelacakan digital pada distribusi tabung gas, perusahaan berharap pemulihan penjualan akan berlanjut di kuartal berikutnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....