Laba DKFT Naik Lebih dari 50 Persen
- 20 Okt 2025 11:00 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Emiten tambang nikel PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatatkan kinerja keuangan yang impresif hingga akhir kuartal III 2025. Berdasarkan laporan keuangan interim yang tidak diaudit, perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp1,24 triliun, meningkat sekitar 29% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp960,89 miliar.
Kenaikan pendapatan ini disertai dengan perbaikan signifikan pada laba bersih. DKFT mencatatkan laba bersih Rp442,68 miliar, melonjak dari Rp285,99 miliar pada September 2024 atau tumbuh sekitar 54,7% secara tahunan (year-on-year). Laba per saham dasar pun naik menjadi Rp80,23, dari sebelumnya Rp52,5 per lembar saham.
Total aset perusahaan per 30 September 2025 tercatat Rp2,98 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp2,54 triliun. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh bertambahnya kas dan setara kas yang mencapai Rp932,9 miliar, naik signifikan dari Rp517,8 miliar di akhir tahun lalu.
Baca juga: Memilih Saham dengan Menggunakan Price to Earnings Ratio (PER) ala Lo Kheng Hong
Selain itu, aset keuangan lancar melalui pendapatan komprehensif lain juga meningkat menjadi Rp475,13 miliar, menunjukkan strategi investasi yang lebih aktif di instrumen keuangan.
Sementara itu, liabilitas total tercatat sebesar Rp1,74 triliun, sedikit meningkat dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp1,69 triliun. Komponen terbesar berasal dari utang lembaga keuangan non-bank jangka panjang sebesar Rp617,38 miliar.
Ekuitas perseroan naik tajam menjadi Rp1,23 triliun dari sebelumnya Rp847,32 miliar, seiring akumulasi laba bersih yang meningkat dan pembentukan cadangan laba ditahan baru sebesar Rp12 miliar.
Laba kotor DKFT mencapai Rp625,74 miliar, naik 49% dibanding periode sama tahun lalu (Rp419,43 miliar). Peningkatan margin ini menunjukkan efisiensi biaya dan perbaikan operasional di lini pertambangan dan perdagangan mineral.
Beban penjualan turun menjadi Rp24,33 miliar dari Rp40,3 miliar, dan beban umum serta administrasi juga menurun menjadi Rp127,91 miliar, dari Rp145,24 miliar di tahun sebelumnya.
Baca juga: Lo Kheng Hong: Kisah Bertahan di Tengah Turunnya Harga Saham BUMI
Selain efisiensi, pendapatan keuangan meningkat hampir tiga kali lipat menjadi Rp57,47 miliar, didorong oleh hasil investasi dan bunga deposito yang lebih tinggi. Beban bunga dan rugi selisih kurs juga berkurang, berkontribusi positif pada kenaikan laba bersih.
Dari sisi arus kas, DKFT mencatat arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp677,39 miliar, meningkat dari Rp541,94 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas yang solid dari kegiatan utamanya.
Sebaliknya, aktivitas investasi masih mencatat arus keluar bersih sebesar Rp95,77 miliar, terutama karena pembayaran untuk perolehan aset tetap dan penempatan aset keuangan jangka panjang. Namun, kondisi ini masih sejalan dengan strategi ekspansi tambang dan penguatan aset produktif.
Dengan performa finansial yang kuat hingga kuartal ketiga, DKFT menunjukkan fundamental yang semakin sehat di tengah fluktuasi harga komoditas global. Keberhasilan menekan biaya dan meningkatkan efisiensi produksi menjadi faktor utama kenaikan laba bersih.
Manajemen DKFT menyatakan akan terus fokus pada optimalisasi lini pertambangan nikel dan mineral, serta pengembangan anak usaha seperti PT COR Industri Indonesia dan PT Mulia Pacific Resources, yang menjadi kontributor utama pendapatan.
Disclaimer : Bukan ajakan untuk jual ataupun beli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....