Memilih Saham dengan Menggunakan Price to Earnings Ratio (PER) ala Lo Kheng Hong

  • 26 Jun 2024 22:02 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Berinvestasi di pasar saham memerlukan pemahaman mendalam tentang berbagai metrik keuangan yang dapat membantu mengidentifikasi nilai suatu saham. Salah satu indikator yang paling sering digunakan oleh investor untuk menilai nilai suatu saham adalah Price to Earnings Ratio (PER). PER adalah alat sederhana namun sangat informatif yang dapat membantu investor menentukan apakah suatu saham layak untuk dibeli berdasarkan pendapatan perusahaan. Lo Kheng Hong Pun sering menggunakan PER sebelum menentukan saham Perusahaan mana yang akan dipilih untuk investasi.

Price to Earnings Ratio (PER) adalah rasio yang mengukur harga saham suatu perusahaan dibandingkan dengan pendapatan per saham (EPS) perusahaan tersebut. PER digunakan untuk menilai apakah suatu saham dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan pendapatan perusahaan. Rumus PER sendiri adalah Harga Saham / Pendapatan per Saham (EPS). Untuk menghitung PER, Anda memerlukan dua komponen utama yaitu harga saham saat ini dan pendapatan per saham (EPS) dimana pendapatan bersih perusahaan dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

Sebagai contoh jika perusahaan XYZ memiliki harga saham saat ini sebesar Rp100.000 dan EPS sebesar Rp5.000, maka PER adalah: PER = Rp100.000 / Rp5.000 = 20. Ini berarti investor bersedia membayar 20 kali pendapatan perusahaan per saham untuk membeli saham tersebut. Pada tahun 2005 Lo Kheng Hong membeli sebuah saham dengan menggunakan pendekatan PER. “Saya biasa mencari saham-saham yang price to book value (PBV) dan price to earnings ratio (PER) nya rendah. as simple as that.” Ucap Lo Kheng Hong dalam buku Lo Kheng Hong karya Lukas Setia Atmaja

Saham yang dibeli Lo Kheng Hong pada 2005 yang memberikan imbal hasil luar biasa adalah PT Multi Breeder Adirama Indonesia. Tbk (MBAI). MBAI merupakan Perusahaan yang bergerak di bidang pembibitan anak ayam yang mana sangat terpukul dengan mewabahnya virus flu burung pada tahun tersebut. Hal ini tentu saja mempengaruhi harga saham seluruh industri yang bergerak di bidang ternak ayam, dimana MBAI pun tak terkecuali. Pada tahun tersebut laba per saham dari MBAI adalah Rp780, sedangkan harga per lembar sahamnya adalah 250.

Dengan kondisi tersebut, PER dari MBAI ada pada angka 0,3. Tentu jauh dari batas PER konsep value investing yang sebesar 5. Dan tentu saham ini termasuk saham favorit bagi Lo Kheng Hong. Pada waktu tersebut Lo Kheng Hong memutuskan membeli saham MBAI sejumlah 6,2 juta lembar dengan nilai investasi Rp1,55 miliar. Dan 6 tahun kemudian saham tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp31.500, menikmati keuntungan 12.500 persen atau rata-rata hampir 125% setahun. Luar biasa!

Tentu apa yang dialami oleh Lo Kheng Hong bukan sesuatu yang terjadi setiap hari, namun setidaknya hal ini patut kita pelajari dan tiru untuk membuat keputusan investasi di masa depan. Dengan memahami dan menggunakan PER, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi dan lebih bijaksana. Dan juga penting untuk diingat bahwa PER hanyalah salah satu dari banyak metrik yang harus dipertimbangkan dalam analisis saham. Penggunaan PER harus disertai dengan analisis fundamental lainnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kesehatan dan prospek perusahaan. Dengan strategi yang tepat, PER bisa menjadi komponen penting dalam portofolio investasi yang sukses.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....