Psikolog Ungkap Alasan Gen Z Sensitif terhadap Kritik

  • 30 Sep 2026 18:24 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar dan berkembang, termasuk di lingkungan pendidikan maupun dunia kerja. Namun, bagi sebagian Generasi Z, kritik terkadang dapat terasa lebih personal sehingga memunculkan respons emosional seperti kecewa, malu, atau kehilangan kepercayaan diri.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang tidak mampu menerima masukan. Cara setiap individu merespons kritik dapat dipengaruhi oleh pengalaman, cara komunikasi, kondisi emosional, hingga bagaimana kritik tersebut disampaikan.

Psikolog Andi Cahyadi, M.Psi., menjelaskan bahwa seseorang dapat menjadi lebih sensitif terhadap kritik ketika masukan yang diterima dianggap sebagai penilaian terhadap dirinya secara keseluruhan, bukan hanya terhadap perilaku atau hasil pekerjaannya.

“Ketika kritik dianggap sebagai serangan terhadap diri, seseorang akan lebih mudah merasa tersinggung. Padahal, kritik sebenarnya bisa diarahkan pada perilaku atau pekerjaan tertentu, bukan pada nilai dirinya sebagai individu,” jelasnya pada Rabu (30/9/2026)

Menurutnya, perkembangan media sosial juga dapat menjadi salah satu konteks yang memengaruhi cara Gen Z memandang penilaian dari orang lain. Terbiasa mendapatkan respons berupa komentar, likes, maupun penilaian publik dapat membuat sebagian individu lebih memperhatikan bagaimana dirinya dipersepsikan oleh lingkungan.

Selain itu, pengalaman mendapatkan kritik di masa sebelumnya juga dapat memengaruhi respons seseorang. Kritik yang disampaikan dengan cara merendahkan atau mempermalukan dapat membuat seseorang lebih waspada ketika kembali menerima masukan.

Karena itu, penting bagi Gen Z untuk membedakan antara kritik terhadap tindakan dan serangan terhadap pribadi. Kritik terhadap pekerjaan dapat menjadi informasi yang membantu seseorang mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

“Tidak semua kritik harus langsung diterima sebagai kebenaran, tetapi tidak semuanya juga harus dianggap sebagai serangan. Kita bisa mendengarkan, memilah mana yang relevan, kemudian menentukan apa yang perlu diperbaiki,” tambahnya.

Psikolog juga menyarankan agar seseorang memberikan jeda sebelum merespons kritik, terutama jika masukan tersebut memunculkan emosi yang kuat. Dengan memberikan waktu, seseorang dapat mengurangi respons spontan dan memahami isi kritik secara lebih objektif.

Di lingkungan kerja, komunikasi dua arah juga penting. Kritik akan lebih mudah diterima ketika disampaikan secara spesifik, fokus pada pekerjaan, dan memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami apa yang perlu diperbaiki.

Sementara bagi Gen Z sebagai penerima kritik, kemampuan meminta contoh atau penjelasan dapat membantu mengubah kritik menjadi masukan yang lebih konkret. Dengan demikian, kritik tidak berhenti sebagai penilaian, tetapi dapat menjadi bahan untuk meningkatkan kemampuan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....