Menata Hati, Kunci Meraih Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
- 02 Sep 2026 13:46 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Setiap manusia tentu mendambakan kebahagiaan dalam hidup. Berbagai cara dilakukan untuk mencapainya, mulai dari mengejar kesuksesan, memenuhi kebutuhan hidup, hingga merencanakan masa depan. Namun, kebahagiaan sejati tidak hanya berkaitan dengan pencapaian duniawi, melainkan juga ketenangan dan kelapangan hati.
Ustadzah Dr. Nanik Nurhayati, M.Pd. mengatakan, kebahagiaan berkaitan erat dengan bagaimana seseorang mampu menata hati, sekaligus mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat.
Menurutnya, ketenangan hati menjadi modal penting agar seseorang dapat menjalani berbagai aktivitas dengan tenang, optimistis, dan tetap memiliki harapan terhadap masa depan.
“Manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Namun kebahagiaan itu berkenaan dengan bagaimana ketenangan hati kita, kelapangan hati kita dan juga bagaimana kita menata tidak hanya untuk dunia tetapi juga untuk akhirat kita,” jelasnya.
Nanik menambahkan, manusia boleh memiliki berbagai ide, rencana, dan cita-cita. Namun, semua rencana tersebut tetap berada dalam ketentuan atau qada dan qadar Allah SWT.
Ia menilai, salah satu penyebab seseorang merasa tidak tenang dan tidak puas dalam menjalani kehidupan adalah belum mampu menerima takdir Allah dengan ikhlas.
“Manusia itu penuh dengan ide, rencana, tetapi kita tidak lepas dengan qada qadar-nya Allah,” ungkapnya.
Menurut Nanik, keimanan terhadap takdir merupakan bagian dari rukun iman yang wajib diyakini umat Islam. Keimanan tersebut melengkapi iman kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-kitab Allah, serta hari akhir.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebahagiaan dunia dan akhirat sangat berkaitan dengan kondisi hati. Karena itu, menjaga kesehatan dan kejernihan hati menjadi hal penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Nanik membagi kondisi hati manusia menjadi tiga, yakni qalbun salim, qalbun marid, dan qalbun mayit. Qalbun salim merupakan hati yang sehat, qalbun marid adalah hati yang sakit, sedangkan qalbun mayit menggambarkan hati yang mati.
“Hati yang sehat itu yang bagaimana? Dia bisa bersyukur kepada Allah, dia bisa menerima keadaan yang ada dalam dirinya dan dia juga bisa sabar dalam menghadapi apa pun. Maka di sinilah adalah qalbun salim,” tuturnya.
Sebaliknya, terdapat sejumlah sifat yang dapat merusak hati dan membuat seseorang kehilangan ketenangan. Nanik menyebut tiga di antaranya adalah iri dan dengki, keserakahan, serta kesombongan.
Ketiga sifat tersebut, menurutnya, dapat menjadi sumber kegelisahan dalam diri manusia apabila tidak dikendalikan.
Karena itu, Nanik mengajak setiap orang untuk terus menjaga kebersihan hati dengan memperkuat rasa syukur, kesabaran, dan keikhlasan dalam menerima ketentuan Allah SWT.
“Manusia itu punya rencana tetapi Allah punya ketentuannya,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak keinginan yang berhasil diwujudkan. Ketenangan justru dapat tumbuh ketika seseorang mampu berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan tetap menjaga kejernihan hati.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....