Media Sosial Picu Kecemasan Gen Z? Ini Penjelasan Psikolog
- 30 Agt 2026 21:02 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun: Media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z. Berbagai platform digital digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, mengikuti tren, hingga mengekspresikan diri. Namun, intensitas penggunaan media sosial juga dapat menghadirkan tekanan psikologis, terutama ketika pengguna mulai merasa harus selalu mengikuti apa yang terjadi di ruang digital.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa media sosial tidak secara otomatis menyebabkan kecemasan. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakan platform tersebut, jenis konten yang dikonsumsi, serta kondisi psikologis masing-masing individu.
“Media sosial bukan satu-satunya penyebab kecemasan. Tetapi pola penggunaan tertentu dapat menjadi faktor yang memperkuat rasa cemas, terutama ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain atau merasa harus selalu mendapatkan respons positif,” ujarnya pada Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Andi, salah satu mekanisme yang perlu diperhatikan adalah perbandingan sosial. Melalui media sosial, Gen Z dapat melihat berbagai pencapaian orang lain secara terus-menerus, mulai dari pendidikan, karier, gaya hidup, hingga aktivitas sehari-hari.
“Ketika kita melihat orang lain terlihat sukses setiap hari, sementara kita sedang menghadapi berbagai persoalan sendiri, mudah muncul perasaan bahwa hidup kita tidak cukup baik. Padahal, media sosial hanya menunjukkan sebagian dari kehidupan seseorang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan mendapatkan validasi juga dapat membuat penggunaan media sosial menjadi sumber tekanan. Jumlah likes, komentar, views, atau respons dari pengguna lain terkadang dianggap sebagai ukuran penerimaan sosial.
“Kalau seseorang mulai menjadikan respons di media sosial sebagai ukuran nilai dirinya, maka perubahan kecil dalam respons tersebut bisa memengaruhi suasana hati,” tambah Andi.
Menurut Andi, arus informasi yang sangat cepat juga dapat membuat seseorang mengalami kelelahan digital. Berita, notifikasi, pesan, dan berbagai konten muncul secara bersamaan sehingga otak mendapatkan rangsangan secara terus-menerus.
“Tubuh dan pikiran tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat. Kalau kita terus terhubung tanpa memberikan jeda, kita bisa merasa lebih sulit untuk tenang,” ujarnya.
Andi menyarankan Gen Z untuk mulai memperhatikan pola penggunaan media sosial, bukan hanya menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan di depan layar. Jenis konten yang dikonsumsi dan perasaan setelah mengakses media sosial juga perlu menjadi bahan evaluasi.
“Coba perhatikan bagaimana perasaan kita setelah menggunakan media sosial. Apakah merasa mendapatkan informasi dan hiburan, atau justru semakin cemas, membandingkan diri, dan merasa kurang?” jelasnya.
Namun, Andi mengingatkan agar rasa cemas tidak langsung dianggap sebagai gangguan psikologis hanya karena seseorang aktif menggunakan media sosial. Perasaan cemas merupakan hal yang dapat dialami siapa saja dalam situasi tertentu.
“Yang perlu diperhatikan adalah ketika kecemasan berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Jika sudah mengganggu tidur, belajar, pekerjaan, atau hubungan sosial, sebaiknya mencari bantuan dari profesional,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....