Menjadi Pribadi yang Pandai Bersyukur di Tengah Tantangan Kehidupan Modern
- 22 Sep 2026 06:55 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Kehidupan yang serba canggih seperti saat ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai tuntutan, mulai dari pekerjaan, kebutuhan ekonomi, hingga pengaruh media sosial. Kondisi tersebut tidak jarang membuat seseorang lebih mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain dan merasa kurang dengan apa yang telah dimiliki.
Padahal, rasa syukur menjadi salah satu sikap penting yang dapat membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih positif dan menghargai berbagai nikmat yang telah diterima.
Ustaz Hebni Syarif, M.Pd., mengatakan bahwa bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menyadari bahwa setiap nikmat yang diterima merupakan karunia dari Allah SWT.
Menurutnya, seseorang yang pandai bersyukur tidak berarti terbebas dari masalah atau tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki kehidupan. Sebaliknya, rasa syukur dapat menjadi dasar agar seseorang tetap berusaha tanpa terus-menerus merasa kekurangan.
“Syukur itu bukan berarti kita berhenti berusaha. Kita tetap boleh memiliki cita-cita dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun, dalam proses tersebut kita tidak melupakan nikmat yang sudah Allah berikan,” ujar Ustaz Hebni Syarif, M.Pd., Selasa, 22 September 2026.
Ia menambahkan, salah satu tantangan bersyukur di era digital adalah kebiasaan membandingkan kehidupan pribadi dengan kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial. Apa yang ditampilkan di media sosial umumnya hanya sebagian dari kehidupan seseorang, sehingga tidak tepat jika dijadikan ukuran untuk menilai kebahagiaan atau keberhasilan diri sendiri.
Karena itu, masyarakat diingatkan untuk lebih banyak melihat dan menghargai nikmat yang ada di sekitar, seperti kesehatan, keluarga, kesempatan bekerja, persahabatan, maupun kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan penegasan mengenai pentingnya bersyukur. Hal tersebut terdapat dalam Surah Ibrahim ayat 7:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa syukur memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Syukur juga tidak hanya dilakukan ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, tetapi menjadi sikap yang perlu dibangun dalam berbagai keadaan.
Ustaz Hebni menjelaskan, rasa syukur dapat diwujudkan melalui tiga hal, yakni syukur dalam hati, ucapan, dan perbuatan. Dalam hati, seseorang menyadari bahwa nikmat yang dimilikinya berasal dari Allah. Dengan lisan, seseorang mengungkapkan rasa terima kasih dan memuji Allah. Sedangkan melalui perbuatan, nikmat tersebut digunakan untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.
“Kalau kita diberi kesehatan, maka syukurnya adalah menggunakan kesehatan itu untuk kebaikan. Kalau diberi ilmu, maka syukurnya adalah mengamalkan dan membagikan ilmu tersebut. Jadi, syukur tidak berhenti pada ucapan,” jelasnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT juga mengingatkan manusia agar senantiasa mengingat-Nya dan mensyukuri nikmat yang diberikan. Hal tersebut tercantum dalam QS. Al-Baqarah ayat 152:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat tersebut menegaskan bahwa mengingat Allah dan bersyukur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Ketika seseorang membiasakan diri mengingat Allah, ia akan lebih mudah menyadari berbagai nikmat yang ada dalam kehidupannya.
Ustaz Hebni Syarif, M.Pd., menjelaskan bahwa rasa syukur perlu dibangun bukan hanya ketika seseorang mendapatkan kebahagiaan atau keberhasilan, tetapi juga dalam menjalani keseharian.
“Allah mengingatkan kita, fadzkurūnī adzkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn. Maka jangan sampai karena terlalu sibuk mengejar apa yang belum kita miliki, kita lupa mensyukuri apa yang sudah Allah berikan,” jelasnya.
Karena itu, membiasakan diri mengucapkan alhamdulillah, mengingat Allah, menyadari nikmat yang dimiliki, serta menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun pribadi yang pandai bersyukur.
Teladan tersebut menunjukkan bahwa rasa syukur dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dan ketaatan kepada Allah SWT.
Membangun kebiasaan bersyukur dapat dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya, meluangkan waktu untuk mengingat nikmat yang telah diterima, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, memperbanyak mengucapkan alhamdulillah, serta menggunakan setiap nikmat untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Dengan demikian, menjadi pribadi yang pandai bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru, rasa syukur dapat menjadi cara untuk menyadari apa yang sudah dimiliki sekaligus tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....