Salat dan Sabar, Bekal Menghadapi Beratnya Ujian Kehidupan
- 20 Sep 2026 09:30 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat, mulai dari tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, keluarga, hingga kegelisahan menghadapi masa depan, membutuhkan ketahanan hati dan spiritual. Dalam kondisi tersebut, umat Islam diingatkan untuk menjadikan salat dan sabar sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi setiap ujian.
Ustaz Santoso, S.Ag., M.M., menjelaskan bahwa Islam telah memberikan tuntunan agar seorang Muslim tidak hanya mengandalkan kemampuan diri ketika menghadapi persoalan, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui salat dan kesabaran.
Menurutnya, salat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim karena tidak hanya menjadi kewajiban ibadah, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya.
“Ketika seseorang menghadapi persoalan hidup, jangan sampai persoalan tersebut justru menjauhkan dirinya dari Allah. Salat seharusnya menjadi tempat kita kembali, mengadu, memohon kekuatan, sekaligus menenangkan hati,” jelas Ustaz Santoso, Minggu, 20 September 2026.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 45:
“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa sabar dan salat merupakan dua hal yang dapat menjadi sarana seorang Muslim dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Ustaz Santoso mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari masih terdapat kecenderungan seseorang menjalankan salat sebatas menggugurkan kewajiban. Padahal, salat memiliki dimensi spiritual yang lebih luas.
Salat dapat menjadi momentum untuk menghentikan sejenak kesibukan dunia dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Ketika kita sedang menghadapi persoalan, jangan hanya memikirkan masalahnya. Kita juga perlu menghadirkan Allah dalam kehidupan kita. Salah satunya melalui salat,” katanya.
Ia menambahkan, seseorang yang menghadapi masalah tidak harus menunggu persoalannya selesai untuk mendekat kepada Allah. Justru ketika berada dalam kesulitan, seorang Muslim dianjurkan semakin memperkuat hubungannya dengan Allah.
Hal itu juga ditegaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 yang menjelaskan bahwa salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Dengan demikian, salat tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga diharapkan memberikan pengaruh terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Selain salat, Ustaz Santoso menekankan pentingnya memahami makna sabar secara tepat.
Menurutnya, sabar bukan berarti seseorang hanya diam dan menerima keadaan tanpa melakukan usaha. Sabar justru harus berjalan bersama ikhtiar dan doa.
“Sabar bukan berarti menyerah. Sabar adalah kemampuan kita untuk tetap berada di jalan yang benar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan,” terangnya.
Ia menjelaskan, kesabaran diperlukan dalam berbagai kondisi. Seseorang perlu bersabar ketika menghadapi musibah, bersabar dalam menjalankan ketaatan, serta bersabar untuk menahan diri dari perbuatan yang dilarang Allah.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Menurut Ustaz Santoso, ayat tersebut memberikan penguatan bahwa kesabaran bukanlah sikap yang sia-sia. Allah menjanjikan kebersamaan-Nya dengan orang-orang yang sabar.
Persoalan lain yang kerap muncul dalam kehidupan adalah ketika seseorang telah berdoa dan berusaha, tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan.
Dalam kondisi tersebut, menurut Ustaz Santoso, seorang Muslim perlu menjaga prasangka baik kepada Allah dan tidak mudah berputus asa.
“Kadang kita menganggap pertolongan Allah hanya berupa terkabulnya apa yang kita minta. Padahal, bentuk pertolongan Allah bisa datang dalam berbagai cara yang belum tentu langsung kita pahami,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam melihat keseluruhan hikmah dari sebuah peristiwa. Karena itu, ketika keinginan belum terwujud, seseorang tetap perlu berikhtiar, berdoa, dan bersabar.
Al-Qur’an juga mengingatkan dalam Surah Az-Zumar ayat 53 agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah.
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, Ustaz Santoso mengajak masyarakat untuk tidak hanya memperkuat kemampuan secara jasmani dan intelektual, tetapi juga membangun kekuatan spiritual.
Menurutnya, persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga maupun persoalan sosial harus dihadapi dengan usaha yang nyata. Namun, usaha tersebut perlu disertai dengan doa dan keteguhan hati.
“Jangan menghadapi masalah hanya dengan emosi. Berhenti sejenak, salat, berdoa, kemudian pikirkan langkah yang harus dilakukan. Sabar memberikan ruang bagi kita untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan ujian sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah.
Sebaliknya, ujian seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri dan semakin mendekat kepada Allah SWT.
Ustaz Santoso mengajak umat Islam untuk mulai menjadikan salat dan sabar sebagai bagian dari kebiasaan dalam menjalani kehidupan, bukan hanya dilakukan ketika sedang menghadapi masalah.
Salat lima waktu perlu dijaga, sementara kesabaran perlu dilatih melalui berbagai keadaan yang dihadapi setiap hari.
“Jangan menunggu punya masalah baru kita dekat dengan Allah. Dalam keadaan senang pun kita harus dekat kepada Allah. Sehingga ketika ujian datang, hati kita sudah memiliki bekal,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat dapat memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Ada saatnya seseorang mendapatkan kemudahan, tetapi ada pula saatnya menghadapi kesulitan.
Dalam kondisi tersebut, salat dan sabar menjadi bagian penting untuk menjaga hati agar tetap berada dalam koridor keimanan.
Pada akhirnya, menjadikan salat dan sabar sebagai penolong bukan berarti menghindari seluruh persoalan kehidupan. Keduanya menjadi bekal agar seorang Muslim mampu menghadapi persoalan dengan ikhtiar, doa, keteguhan hati, serta tetap memiliki harapan kepada Allah SWT.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Dengan demikian dapat diartikan sebagai pengingat bahwa setiap ujian memiliki batas kemampuan yang telah Allah tetapkan. Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim diharapkan tidak menyerah, melainkan kembali kepada Allah melalui salat, memperkuat kesabaran, dan terus melakukan ikhtiar terbaik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....