Istilah Brain Rot, Kondisi Otak akibat Terlalu Banyak Konten Tak Bermakna

  • 15 Sep 2026 09:18 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, MADIUN – Istilah brain rot belakangan semakin banyak digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan, khususnya konten-konten singkat yang dinilai kurang memberikan manfaat atau informasi bermakna.

Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun, Robik Anwar Dani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa brain rot bukan merupakan diagnosis klinis dalam psikologi. Istilah tersebut lebih banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengakses konten digital yang kurang bermakna.

Menurut Robik, istilah brain rot sebenarnya sudah cukup dikenal dan bahkan dinobatkan Oxford sebagai The Word of the Year pada 2024. Secara harfiah, brain berarti otak, sedangkan rot berarti membusuk.

Namun, makna brain rot tidak berarti otak seseorang benar-benar mengalami pembusukan.

“Brain rot ini atau istilah ini itu sering dipakai ketika kita mendefinisikan suatu kondisi dari otak itu ketika otak itu terlalu banyak mengakses konten-konten yang rasanya itu enggak meaningful,” jelas Robik., kemarin.

Ia mencontohkan konten berdurasi sangat singkat, berulang, dan tidak memberikan tambahan literasi digital yang berarti. Padahal, penggunaan platform digital idealnya dapat memberikan informasi maupun pengetahuan baru bagi penggunanya.

Robik menjelaskan, aktivitas scrolling sebenarnya tidak selalu bermasalah apabila seseorang mendapatkan informasi atau pembelajaran baru dari konten yang dikonsumsi. Namun, kondisi berbeda terjadi ketika seseorang terus melakukan scrolling tanpa memperoleh sesuatu yang berarti dari aktivitas tersebut.

“Brain rot terjadi ketika kita terus akhirnya ya cuma just scrolling doang gitu dan kita enggak mendapatkan sesuatu dari hasil scrolling tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyebut kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan fungsi kognitif. Ketika seseorang terbiasa hanya menggulir layar dan mengonsumsi konten tanpa perlu berpikir lebih jauh, muncul kecenderungan otak terbiasa tidak melakukan proses berpikir kritis maupun analitis.

“Ketika terus akhirnya otak itu cuma just scrolling doang terus habis itu apa namanya, masuk ke dalam fungsi kognitifnya kita itu terus akhirnya membuat otak kita ini terbiasa ya enggak perlu kok berpikir kritis, enggak perlu kok berpikir analitis. Akhirnya muncullah istilah brain rot ini,” terang Robik.

Dengan demikian, brain rot lebih tepat dipahami sebagai istilah untuk menggambarkan pola konsumsi konten digital yang terus-menerus, tetapi minim informasi atau pembelajaran yang bermakna, bukan sebagai sebuah diagnosis gangguan psikologis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....