Fenomena Cut Off di Kalangan Gen Z, Bentuk Self-Love atau Menghindar?
- 22 Agt 2026 23:47 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Fenomena cut off atau keputusan untuk menghentikan maupun membatasi hubungan dengan seseorang semakin dikenal di kalangan Generasi Z. Pilihan tersebut kerap dianggap sebagai cara untuk menjaga kesehatan mental dan melindungi diri dari hubungan yang dinilai tidak sehat. Namun, psikolog mengingatkan bahwa cut off tidak selalu dapat disebut sebagai bentuk self-love.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa cut off dapat menjadi bentuk perlindungan diri ketika seseorang berada dalam hubungan yang terus memberikan dampak negatif dan batas pribadi tidak dihargai. Dalam kondisi tertentu, mengambil jarak dapat membantu seseorang menjaga kondisi emosionalnya.
“Ketika sebuah hubungan terus memberikan tekanan, terjadi pelanggaran batas, dan berbagai upaya komunikasi tidak menghasilkan perubahan, mengambil jarak dapat menjadi bentuk perlindungan diri,” ujarnya pada Jumat (21/8/2026)
Menurut Andi, self-love sendiri bukan sekadar meninggalkan orang yang membuat seseorang merasa tidak nyaman. Self-love juga berkaitan dengan kemampuan mengenali kebutuhan diri, menghargai batas pribadi, serta mengambil keputusan yang mendukung kesejahteraan diri.
“Self-love bukan berarti kita harus selalu memilih diri sendiri dan meninggalkan orang lain. Yang lebih penting adalah mampu menghargai diri tanpa mengabaikan kemampuan untuk memahami orang lain,” jelasnya.
Di sisi lain, cut off dapat menjadi bentuk menghindari konflik apabila dilakukan setiap kali seseorang menghadapi perbedaan pendapat, kritik, atau ketidaknyamanan dalam sebuah hubungan.
“Kalau setiap muncul konflik seseorang langsung memutus hubungan tanpa memberikan ruang untuk komunikasi, itu perlu dievaluasi. Bisa jadi bukan karena hubungannya selalu tidak sehat, tetapi karena individu tersebut belum terbiasa menghadapi konflik,” tambah Andi.
Menurutnya, konflik sebenarnya merupakan bagian yang wajar dalam hubungan sosial. Perbedaan karakter, pendapat, dan kebutuhan dapat terjadi dalam pertemanan maupun hubungan lainnya. Kemampuan menyelesaikan perbedaan menjadi salah satu bagian penting dalam membangun relasi yang sehat.
“Tidak semua konflik harus dihindari. Ada konflik yang justru dapat menjadi kesempatan untuk memahami satu sama lain dan memperbaiki hubungan,” katanya.
Andi menyarankan Gen Z untuk melakukan evaluasi sebelum memutuskan cut off. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain apakah masalah tersebut terjadi berulang kali, apakah batas pribadi sudah disampaikan, dan apakah masih ada kemungkinan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi.
“Jangan mengambil keputusan permanen hanya berdasarkan emosi sesaat. Berikan waktu untuk menenangkan diri dan melihat situasinya secara lebih objektif,” ujarnya.
Ia menambahkan, menetapkan boundaries juga tidak selalu berarti harus memutus hubungan. Seseorang dapat memilih mengurangi intensitas komunikasi, menjaga jarak sementara, atau menyampaikan batasan tertentu tanpa harus menghilangkan hubungan sepenuhnya.
“Boundaries adalah tentang menjelaskan apa yang dapat dan tidak dapat kita terima. Sementara cut off adalah salah satu pilihan ketika batas tersebut terus dilanggar,” jelasnya.
Namun, Andi juga menegaskan bahwa seseorang tidak perlu merasa bersalah ketika harus meninggalkan hubungan yang benar-benar memberikan dampak buruk dan tidak menunjukkan perubahan meskipun sudah diupayakan.
“Mempertahankan hubungan hanya karena takut dianggap jahat juga bukan pilihan yang sehat. Kita memiliki hak untuk menjaga diri dan menentukan hubungan seperti apa yang ingin dipertahankan,” tegasnya.
Menurutnya, Gen Z perlu membangun keseimbangan antara kemampuan menjaga diri dan kemampuan menghadapi konflik. Dengan begitu, cut off tidak menjadi respons otomatis terhadap setiap persoalan dalam hubungan.
“Berani mengatakan cukup merupakan bagian dari menjaga diri. Tetapi berani berdialog dan menyelesaikan masalah juga merupakan bentuk kedewasaan,” pungkas Andi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....