Benarkah Gen Z Ingin Fleksibilitas dalam Bekerja? Ini Penjelasan Psikolog

  • 16 Agt 2026 08:52 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Fleksibilitas kerja semakin menjadi perhatian dalam dunia kerja modern, termasuk di kalangan Generasi Z. Pilihan waktu kerja yang lebih adaptif, sistem hybrid, hingga keleluasaan dalam mengatur cara menyelesaikan pekerjaan kerap dikaitkan dengan kebutuhan generasi muda. Namun, psikolog menilai keinginan tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai keengganan terhadap aturan atau disiplin kerja.

Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa fleksibilitas pada dasarnya berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk memiliki kendali terhadap cara menjalankan pekerjaannya.

“Fleksibilitas bukan berarti seseorang ingin bekerja sesuka hati. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk mengatur pekerjaan dengan tetap memenuhi target, tanggung jawab, dan aturan yang telah disepakati,” ujarnya pada Jumat (14/8/2026)

Menurut Andi, salah satu faktor yang membuat fleksibilitas menarik bagi Gen Z adalah meningkatnya perhatian terhadap work-life balance. Pekerjaan tidak hanya dipandang dari sisi penghasilan, tetapi juga bagaimana pekerjaan dapat berjalan seimbang dengan waktu istirahat, keluarga, kehidupan sosial, serta pengembangan diri.

Temuan Deloitte Global 2025 terhadap lebih dari 23 ribu responden di 44 negara menunjukkan Gen Z memang memberi perhatian besar pada keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, sekaligus tetap menempatkan pembelajaran dan pengembangan keterampilan sebagai prioritas. (Deloitte Italia)

“Ketika seseorang memiliki kesempatan mengatur pekerjaannya dengan lebih adaptif, ia dapat menyesuaikan tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi. Namun, fleksibilitas tetap membutuhkan kedisiplinan,” jelasnya.

Andi menambahkan, keinginan terhadap fleksibilitas juga tidak berarti Gen Z tidak memiliki ambisi dalam berkarier. Justru, survei Deloitte 2025 menunjukkan 70 persen responden Gen Z mengembangkan keterampilan untuk kemajuan karier setidaknya sekali dalam seminggu. (Deloitte Italia)

“Jadi, anggapan bahwa Gen Z menginginkan fleksibilitas karena ingin bekerja lebih sedikit perlu dilihat kembali. Mereka tetap memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai bagaimana proses tersebut dijalankan,” tambahnya.

Menurutnya, fleksibilitas juga dapat memberikan rasa dipercaya kepada pekerja. Ketika target dan tanggung jawab sudah jelas, karyawan dapat diberikan ruang untuk menentukan cara kerja yang dianggap paling efektif.

“Ketika seseorang merasa dipercaya, ia juga memiliki kesempatan untuk belajar bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya,” katanya.

Meski demikian, Andi mengingatkan bahwa fleksibilitas tanpa batas justru dapat menimbulkan persoalan baru. Pekerja dapat merasa harus selalu tersedia karena pekerjaan bisa dilakukan kapan saja.

“Fleksibilitas yang sehat harus memiliki batas. Ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk beristirahat. Jangan sampai fleksibilitas justru membuat seseorang tidak pernah benar-benar lepas dari pekerjaan,” tegasnya.

Ia juga menilai sistem kerja yang ideal tidak harus selalu berupa kerja dari rumah. Sebagian pekerja tetap membutuhkan interaksi langsung dengan rekan kerja untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun hubungan profesional.

Karena itu, menurut Andi, perusahaan perlu memahami kebutuhan karyawan sekaligus mempertimbangkan karakter pekerjaan. Fleksibilitas dapat diterapkan dalam bentuk yang berbeda, mulai dari jam kerja yang lebih adaptif hingga sistem hybrid.

“Tidak ada satu pola kerja yang cocok untuk semua orang. Yang penting adalah menemukan keseimbangan antara kebutuhan pekerja dan target perusahaan,” ujarnya.

Andi berharap perbedaan preferensi kerja antargenerasi tidak menjadi alasan munculnya stereotip terhadap Gen Z. Menurutnya, perubahan cara pandang terhadap pekerjaan merupakan bagian dari dinamika dunia kerja.

“Gen Z bukan berarti tidak mau bekerja keras. Mereka memiliki cara berbeda dalam mendefinisikan pekerjaan yang ideal. Tantangannya adalah bagaimana fleksibilitas tersebut tetap berjalan bersama tanggung jawab dan profesionalisme,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....