Catur Latih Fokus dan Berpikir Kritis Anak

  • 03 Agt 2026 14:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Permainan catur tidak hanya menjadi ajang meraih prestasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir anak sejak usia dini. Hal itu disampaikan Ridvan Pramagna Putra. Ia adalah ayah Aryang Keva Pambajeng, bocah 6 tahun yang berhasil meraih juara III Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Catur Jawa Timur 2026.

Menurutnya, sebelum mengenalkan catur kepada anak, orang tua perlu menentukan tujuan terlebih dahulu. Tidak semua anak harus diarahkan menjadi atlet, sebab catur juga memiliki manfaat besar bagi perkembangan kognitif.

"Tujuan bermain catur harus dipahami dulu. Ada yang memang ingin mengejar prestasi, tetapi ada juga yang menjadikan catur sebagai media melatih fokus dan berpikir kritis," ujar Ridvan saat mendampingi putrinya siaran obrolan Sore Ceria PRO 2 RRI Madiun.

Ia mengungkapkan, tujuan awal mengenalkan catur kepada Aryang bukanlah mengejar medali, melainkan membantu meningkatkan konsentrasi. Harapannya, ketika memasuki sekolah dasar, anak lebih mudah menerima pelajaran di kelas.

"Saya dulu mengenalkan catur kepada Aryang untuk melatih fokus. Harapannya saat masuk SD dia lebih cepat menangkap pelajaran di sekolah," katanya.

Setelah tujuan ditetapkan, latihan dapat disesuaikan. Jika sekadar untuk mengembangkan kemampuan berpikir, latihan tidak perlu terlalu berat. Namun, apabila anak ingin berkompetisi, latihan harus dilakukan secara rutin, baik di klub maupun di rumah.

Dalam mengenalkan catur kepada anak usia dini, Ridvan menyarankan agar orang tua tidak langsung mengajarkan strategi permainan. Tahap pertama adalah membuat anak tertarik terlebih dahulu melalui bentuk dan karakter bidak catur yang unik.

"Kenalkan dulu nama-nama bidaknya. Misalnya pion, raja, kuda, atau gajah. Bisa dibuat cerita sederhana agar anak penasaran. Setelah itu baru dikenalkan cara jalannya masing-masing bidak," jelasnya.

Ridvan mencontohkan, gerakan setiap bidak dapat dianalogikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Misalnya, pion hanya dapat bergerak maju, sedangkan bidak lain memiliki pola gerak yang berbeda. Pendekatan seperti ini membuat anak lebih mudah mengingat aturan dasar permainan.

Menurutnya, strategi baru diajarkan setelah anak benar-benar memahami nama bidak dan cara bergeraknya. Ia menilai proses belajar harus dilakukan secara bertahap tanpa terburu-buru.

"Kalau satu materi belum benar-benar dikuasai, jangan langsung pindah ke materi berikutnya. Anak belajar melalui pengulangan. Latihan dengan pola yang sama sampai benar-benar paham, baru lanjut ke strategi dan taktik," ujarnya.

Untuk meningkatkan ketertarikan anak, orang tua juga dapat memanfaatkan papan catur atau bidak dengan warna dan desain yang lebih menarik. Platform digital juga bisa digunakan sebagai pendukung, tetapi bukan sebagai media utama belajar.

"Platform online cukup sebagai pendukung agar anak semakin tertarik. Tetap lebih baik belajar menggunakan papan catur fisik supaya anak bisa mengenal langsung bidaknya," katanya.

Ridvan menambahkan, tantangan terbesar mengajarkan catur kepada anak bukan pada materi permainan, melainkan menjaga konsistensi belajar. Anak-anak umumnya mudah berubah suasana hati sehingga orang tua perlu sabar dan menyesuaikan waktu latihan dengan kondisi anak.

"Yang penting jangan terburu-buru. Sabar mendampingi, ulangi materi sampai anak paham, dan sesuaikan latihan dengan kondisi anak. Kalau sudah menikmati prosesnya, kemampuan mereka akan berkembang dengan sendirinya," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....