Apa Kata Gen Z tentang Broken Home
- 25 Jul 2026 15:30 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Broken home tidak selalu identik dengan perceraian orang tua. Kondisi keluarga yang tidak harmonis hingga hilangnya rasa aman bagi anak juga dapat memberikan dampak psikologis yang serupa.
Hal itu diungkapkan dua mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, Clara Alisa dan Ika Risky, saat membahas pandangan mereka mengenai makna broken home. Menurut Clara Alisa, broken home lebih berkaitan dengan hilangnya kebutuhan emosional anak di dalam keluarga.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai "tangki cinta" yang tidak terisi penuh, sehingga anak merasa tidak nyaman berada di rumah.
"Kalau menurut saya, broken home itu ketika tangki cintanya tidak penuh. Anak jadi merasa tidak nyaman di rumah dan tidak memiliki tempat untuk bercerita. Walaupun itu orang tuanya sendiri, rasa nyaman itu tidak ada," ujar Clara, kemarin.
Ia menambahkan, hilangnya kepercayaan antara anak dan orang tua menjadi salah satu dampak yang sering muncul. Akibatnya, anak merasa enggan membuka diri dan memilih memendam berbagai persoalan yang dihadapinya.
Sementara itu, Ika Risky memandang broken home tidak hanya terjadi ketika orang tua bercerai. Menurutnya, keluarga yang masih utuh tetapi dipenuhi pertengkaran juga dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi anak.
"Broken home bukan hanya soal perceraian. Orang tua yang masih bersama tetapi sering bertengkar di depan anak juga bisa membuat anak merasa bingung dan tertekan. Dampaknya tetap ada pada perkembangan anak," kata Ika.
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi kehilangan salah satu orang tua karena meninggal dunia maupun pola pengasuhan yang kurang optimal dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya, ketika orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi.
Menurut Ika, anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Kurangnya perhatian dan komunikasi dapat membuat anak kehilangan rasa aman dalam keluarga.
Pandangan kedua mahasiswa tersebut sejalan dengan penjelasan akademis mengenai broken home yang tidak semata-mata diukur dari keutuhan struktur keluarga, melainkan juga dari kualitas hubungan, komunikasi, dan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan emosional anak.
Melalui pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi memandang broken home hanya sebagai akibat perceraian, tetapi juga menyadari pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, serta menjadi tempat yang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....