Kekerasan Seksual Tak Selalu Berbentuk Fisik, Korban Sering Tidak Menyadari
- 16 Jun 2026 08:23 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kekerasan seksual tidak selalu ditandai dengan tindakan fisik yang kasar atau mudah terlihat. Banyak kasus justru terjadi melalui manipulasi psikologis, bujukan, intimidasi, hingga relasi kuasa yang membuat korban tidak langsung menyadari bahwa dirinya sedang mengalami kekerasan seksual.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen psikologi UKWMS, Jaka Santosa Sudagijono, M.Psi., Psikolog, saat memberikan pemahaman mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual yang berkembang di masyarakat dalam program PUG dan INKLUSI Pro 1 RRI Madiun. Menurut Jaka, istilah kekerasan seksual saat ini memiliki cakupan yang lebih luas dibanding pemahaman masyarakat pada masa lalu. Tidak sedikit korban yang baru menyadari dirinya menjadi korban setelah waktu yang cukup lama.
“Korban sering tidak menyadari kalau dirinya merupakan korban kekerasan seksual. Kesadaran itu biasanya datang terlambat. Jadi tidak selalu dalam bentuk kekerasan yang langsung terlihat secara fisik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam banyak kasus terdapat unsur bujukan, manipulasi, maupun intimidasi yang melibatkan aspek psikologis korban. Karena itu, penggunaan istilah kekerasan tidak selalu berarti adanya tindakan fisik yang kasat mata.
Jaka mencontohkan fenomena grooming yang beberapa tahun terakhir menjadi perhatian publik. Menurutnya, istilah tersebut bahkan belum banyak dikenal dalam pembahasan kekerasan seksual satu hingga dua dekade lalu.\
“Banyak sekali perubahan terkait kesadaran masyarakat. Jadi tidak harus selalu fisik, tetapi juga melibatkan begitu banyak aspek psikologis dan sosial,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai faktor penyebab kekerasan seksual tidak bisa hanya dipandang sebagai dorongan seksual semata. Dalam perkembangannya, penelitian dan praktik penanganan korban menunjukkan adanya pengaruh faktor sosial dan budaya yang turut berperan.
Di Indonesia yang masih memiliki budaya patriarki cukup kuat, laki-laki sering kali ditempatkan pada posisi yang lebih dominan dalam struktur sosial. Kondisi tersebut, menurut Jaka, dapat memengaruhi relasi kuasa yang pada situasi tertentu berpotensi menjadi faktor pendorong terjadinya kekerasan seksual.
“Dalam perjalanan kesadaran kita, ternyata lebih banyak faktor sosial dan budaya yang ikut mendorong terjadinya kekerasan seksual. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa ini hanya karena dorongan nafsu seksual saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, kasus yang murni disebabkan oleh gangguan perilaku seksual atau dorongan seksual patologis justru jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan masyarakat. Sebaliknya, faktor relasi kuasa, norma sosial, dan budaya sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar dalam munculnya tindakan kekerasan seksual.
Karena itu, Jaka menekankan pentingnya meningkatkan literasi masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual agar korban dapat lebih cepat mengenali tanda-tandanya dan memperoleh perlindungan yang tepat.
Dengan pemahaman yang semakin baik, diharapkan masyarakat tidak hanya fokus pada kekerasan yang tampak secara fisik, tetapi juga lebih peka terhadap bentuk-bentuk kekerasan seksual yang terjadi melalui tekanan psikologis, manipulasi, maupun penyalahgunaan relasi kuasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....