Pelajar Sering Overthinking Soal Nilai, Ini Kata Psikolog
- 30 Jun 2026 13:16 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Nilai akademik masih menjadi salah satu sumber tekanan bagi banyak pelajar. Tidak sedikit siswa yang merasa cemas, takut gagal, hingga terus memikirkan hasil ujian atau tugas, meskipun proses pembelajaran telah selesai. Kondisi ini dapat memicu overthinking yang berdampak pada kesehatan mental maupun prestasi belajar.
Psikolog, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap nilai merupakan hal yang wajar. Namun, jika pelajar terus-menerus memikirkan hasil hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian.
“Nilai memang penting sebagai alat evaluasi, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan diri. Ketika pelajar terlalu fokus pada angka, mereka bisa kehilangan makna dari proses belajar itu sendiri,” ujarnya pada Minggu 28 Juni 2026.
Menurut Andi, overthinking mengenai nilai biasanya dipicu oleh berbagai faktor, seperti ekspektasi yang tinggi terhadap diri sendiri, tuntutan dari orang tua, persaingan dengan teman sebaya, hingga rasa takut mengecewakan orang lain.
“Banyak pelajar merasa bahwa nilai rendah berarti mereka gagal atau kurang mampu. Padahal, satu hasil ujian tidak dapat menggambarkan seluruh potensi yang dimiliki seseorang,” jelasnya.
Ia menambahkan, kebiasaan membandingkan nilai dengan teman juga dapat memperbesar tekanan psikologis. Terlebih di era digital, pelajar semakin mudah melihat pencapaian orang lain melalui media sosial atau grup belajar.
“Perbandingan yang terus-menerus dapat membuat pelajar merasa tertinggal dan meragukan kemampuan dirinya sendiri,” tambah Andi.
Dari sisi psikologis, overthinking dapat menyebabkan sulit berkonsentrasi, menurunnya motivasi belajar, gangguan tidur, hingga rasa cemas yang berkepanjangan. Dalam beberapa kasus, pelajar justru menunda belajar karena takut hasilnya tidak sesuai harapan.
Untuk itu, Andi menyarankan agar pelajar mulai mengubah cara pandang terhadap nilai. Menurutnya, nilai sebaiknya dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang masih perlu diperbaiki, bukan sebagai penentu harga diri.
“Fokuslah pada proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya. Ketika prosesnya dijalani dengan baik, hasil biasanya akan mengikuti,” katanya.
Ia juga mengimbau orang tua dan guru untuk memberikan dukungan yang positif dengan menghargai usaha anak, bukan semata-mata pencapaian akademiknya. Lingkungan yang suportif akan membantu pelajar lebih percaya diri dan tidak mudah tertekan.
“Pelajar perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan belajar yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berkembang dan tidak berhenti mencoba,” tegas Andi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....